IHSG Anjlok Lebih dari 3 Persen di Awal Perdagangan

JAKARTA – Perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia pada awal pekan menunjukkan tekanan kuat terhadap pasar. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada Senin pagi dan bahkan sempat merosot lebih dari 3 persen dalam waktu kurang dari 15 menit setelah perdagangan dimulai.

Pada sesi pertama perdagangan, IHSG tercatat menyentuh level terendah di posisi 6.917,32. Tekanan jual terlihat dominan di hampir seluruh sektor perdagangan, sehingga memperdalam koreksi indeks pada awal pekan.

Data perdagangan menunjukkan hanya 77 saham yang berhasil menguat, sementara 564 saham mengalami penurunan dan 84 saham bergerak stagnan. Aktivitas transaksi juga terbilang relatif terbatas dengan nilai perdagangan sekitar Rp2,64 triliun dari 7,01 miliar lembar saham yang diperdagangkan dalam 335.764 transaksi.

Kondisi tersebut juga berdampak pada kapitalisasi pasar yang turun menjadi sekitar Rp12.360 triliun. “Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Senin, 16 Maret 2026 dan sempat anjlok lebih dari 3% dalam waktu kurang dari 15 menit setelah pasar dibuka,” sebagaimana dilansir Ajaib, Senin (16/03/2026).

Pelemahan indeks turut dipicu koreksi sejumlah saham berkapitalisasi besar atau blue chip yang selama ini menjadi penggerak utama pasar. Beberapa saham bahkan tercatat menjadi kontributor terbesar yang menekan pergerakan indeks.

Saham DSSA tercatat memberikan tekanan paling besar terhadap IHSG dengan kontribusi pelemahan sekitar 18,24 poin indeks. Selain itu, saham BREN juga masuk dalam jajaran laggard pada sesi perdagangan pagi.

Beberapa saham besar lain yang ikut membebani indeks antara lain BRMS, BBRI, TLKM, BBCA, dan BMRI. Koreksi pada saham-saham berkapitalisasi besar tersebut berdampak signifikan terhadap pergerakan indeks secara keseluruhan.

Tidak hanya saham individual, pelemahan juga terjadi pada sebagian besar sektor di Bursa Efek Indonesia. Sektor infrastruktur, energi, serta barang baku tercatat mengalami penurunan terdalam dibandingkan sektor lainnya.

Sementara itu, sektor kesehatan dan sektor finansial relatif mengalami pelemahan yang lebih terbatas dibandingkan sektor lain. Secara tren, pergerakan IHSG masih berada dalam jalur bearish. Dalam 11 hari perdagangan terakhir, indeks hanya mampu mencatatkan penguatan dalam dua hari.

Secara year-to-date, indeks juga telah terkoreksi hampir 20 persen sejak awal tahun. Kondisi ini menunjukkan tekanan pasar yang masih cukup kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Perdagangan saham pada pekan ini juga berlangsung lebih singkat karena bursa hanya beroperasi pada Senin dan Selasa sebelum memasuki libur panjang Idulfitri mulai Rabu, 18 Maret 2026.

Selain faktor domestik, pelaku pasar juga mencermati berbagai sentimen global yang dapat memengaruhi pergerakan pasar keuangan. Sejumlah agenda kebijakan moneter dari bank sentral dunia menjadi perhatian investor.

Setidaknya terdapat 11 bank sentral yang dijadwalkan menggelar rapat kebijakan moneter pada pekan ini, termasuk Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia.

Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur pada 16–17 Maret 2026. Pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Di tingkat global, investor juga menantikan keputusan suku bunga Federal Reserve yang dijadwalkan diumumkan pada 19 Maret 2026 waktu Indonesia. Saat ini, suku bunga The Fed berada di kisaran 3,50 hingga 3,75 persen setelah tiga kali pemangkasan sepanjang tahun sebelumnya.

Selain agenda kebijakan moneter, perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah juga menjadi faktor yang diperhatikan pasar. Ketidakpastian tersebut berpotensi memengaruhi pasokan energi global serta pergerakan harga minyak, sehingga meningkatkan kehati-hatian investor dalam mengambil posisi di pasar saham. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *