Dari Rugi ke Bangkit, Garuda Indonesia Perkuat Armada di 2026
JAKARTA – Upaya pemulihan kinerja maskapai nasional terus dipercepat oleh PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk dengan menitikberatkan pada peningkatan kesiapan armada dan optimalisasi kapasitas produksi sepanjang 2026. Strategi ini dilakukan menyusul tekanan kinerja pada tahun sebelumnya akibat terbatasnya pesawat yang siap dioperasikan.
Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Glenny Kairupan menyampaikan, perseroan menargetkan peningkatan jumlah serviceable aircraft atau pesawat layak terbang sebagai kunci pemulihan operasional. “Melalui dukungan pendanaan capital injection di akhir tahun 2025, Garuda Indonesia menargetkan sedikitnya di akhir tahun 2026 akan mengoperasikan sebanyak 68 serviceable aircraft, sedangkan Citilink menargetkan serviceable aircraft di akhir 2026 sebanyak 50 pesawat,” ujarnya sebagaimana dilansir Sindonews, Jumat (20/03/2026).
Menurut Glenny, fokus utama pada 2026 diarahkan pada percepatan perawatan armada melalui berbagai program teknis, termasuk heavy maintenance airframe check pada sejumlah tipe pesawat seperti Boeing 737-800NG, Boeing 777-300ER, dan Airbus A330. Selain itu, perseroan juga menjalankan proses overhaul serta shop visit untuk komponen penting seperti mesin, Auxiliary Power Unit (APU), dan landing gear guna menjaga performa armada tetap optimal.
Langkah tersebut menjadi respons atas kondisi 2025, ketika kinerja keuangan Garuda Indonesia tertekan. Perseroan mencatat rugi bersih sebesar 319,39 juta dolar Amerika Serikat, sementara pendapatan usaha terkoreksi 5,9 persen menjadi 3,22 miliar dolar Amerika Serikat. Penurunan ini dipengaruhi oleh terbatasnya kapasitas produksi pada semester I 2025 akibat banyaknya pesawat yang berstatus unserviceable aircraft atau tidak dapat dioperasikan karena menunggu jadwal perawatan.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang, Garuda Indonesia juga menyiapkan 11 inisiatif strategis untuk memperkuat transformasi bisnis. Program tersebut mencakup optimalisasi jaringan rute, peningkatan kapasitas armada, transformasi digital platform, peningkatan manajemen pendapatan, serta pengembangan bisnis kargo.
Selain itu, perseroan turut menggenjot optimalisasi pendapatan tambahan, pembentukan aliansi strategis, penguatan tata kelola biaya, digitalisasi operasional, sinergi organisasi, hingga peningkatan pengalaman pelanggan sebagai bagian dari upaya menyeluruh memperbaiki daya saing perusahaan.
“Dengan berbagai langkah transformasi yang terus dijalankan secara disiplin dan terukur, Garuda Indonesia menempatkan tahun 2026 sebagai titik akselerasi pemulihan kinerja perusahaan,” ujar Glenny Kairupan.
Dengan strategi tersebut, Garuda Indonesia optimistis dapat mempercepat proses pemulihan menuju fase turn around yang lebih kuat, sekaligus meningkatkan kepercayaan pasar terhadap kinerja perseroan ke depan. []
Penulis: Anastasya Lavenia Yudi | Penyunting: Redaksi01
