Dorongan PLTS 100 GWp Jadi Kunci Ketahanan Energi Nasional
JAKARTA – Upaya memperkuat ketahanan energi nasional dinilai semakin mendesak di tengah gejolak geopolitik global, menyusul dorongan percepatan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga kapasitas 100 gigawatt peak (GWp) sebagai fondasi transisi energi jangka panjang di Indonesia.
Ketua Umum (Ketum) PLN Watch, Tohom Purba, menilai langkah tersebut bukan sekadar respons jangka pendek, melainkan strategi untuk memastikan kesiapan sistem energi nasional menghadapi perubahan global yang kian dinamis.
“Ini bukan sekadar solusi jangka pendek, tetapi kesiapan menghadapi dinamika energi masa depan,” kata Tohom dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat, sebagaimana dilansir Antara, Jumat (24/04/2026).
Ia menekankan bahwa pengembangan PLTS perlu didukung integrasi dengan Battery Energy Storage System (BESS) guna menjaga stabilitas pasokan listrik berbasis energi bersih, terutama ketika sumber energi terbarukan memiliki karakter intermiten.
Menurut Tohom, kondisi geopolitik global, khususnya ketegangan antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel, telah memberikan tekanan signifikan terhadap stabilitas energi dunia. Situasi ini menuntut Indonesia untuk memperkuat kemandirian energi domestik agar tidak terlalu bergantung pada dinamika eksternal.
Dalam konteks tersebut, langkah PT PLN (Persero) mempercepat transisi menuju Energi Baru Terbarukan (EBT) dinilai sebagai strategi yang tepat. Selain itu, program efisiensi energi juga dianggap penting untuk menjaga keberlanjutan pasokan listrik nasional.
Tohom juga menyoroti bahwa dinamika energi global saat ini tidak hanya berkaitan dengan fluktuasi harga, tetapi juga menyangkut kontrol sumber daya dan daya saing ekonomi antarnegara.
“Negara yang mampu mengendalikan energinya akan memiliki posisi tawar yang lebih kuat, dan PLN sedang bergerak ke arah tersebut,” ujarnya.
Lebih lanjut, program dedieselisasi yang mengalihkan pembangkit listrik berbasis diesel ke energi terbarukan dinilai mampu menekan ketergantungan impor bahan bakar sekaligus memperbaiki neraca energi nasional.
Selain itu, strategi co-firing biomassa pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) juga dipandang sebagai langkah transisi yang realistis. Pendekatan ini memungkinkan pemanfaatan energi bersih tanpa mengganggu stabilitas pasokan listrik dalam jangka pendek.
“Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen energi global, tetapi harus menjadi produsen sekaligus inovator dalam energi bersih,” ujar Tohom.
Dengan kombinasi kebijakan tersebut, penguatan sektor energi diharapkan mampu meningkatkan ketahanan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam peta energi global di masa mendatang. []
Penulis: Putu Indah Savitri | Penyunting: Redaksi01
