Kebakaran Bromo Tekan Okupansi Hotel hingga 20 Persen

PROBOLINGGO – Penutupan akses menuju kawah Gunung Bromo akibat kebakaran hutan dan lahan tidak sepenuhnya menghentikan aktivitas wisata di kawasan tersebut. Pelaku usaha dan agen perjalanan mengalihkan wisatawan ke sejumlah destinasi penyangga untuk menjaga kunjungan tetap berjalan, meski tingkat hunian hotel di sekitar Cemoro Lawang dilaporkan turun hingga 20 persen.

Kebakaran yang telah berlangsung selama 10 hari menyebabkan sebagian wisatawan membatalkan atau menunda perjalanan ke Bromo. Kondisi tersebut terutama dirasakan sejumlah hotel di sekitar pintu masuk Cemoro Lawang, Kabupaten Probolinggo, karena wisatawan tidak dapat mengakses kawasan kawah yang masih ditutup.

Namun, penurunan kunjungan tidak terjadi secara menyeluruh. Wisatawan mancanegara, khususnya dari sejumlah negara Eropa, masih berdatangan dan memilih menginap di kawasan Cemoro Lawang meskipun akses menuju kawah belum dibuka.

Kondisi itu mendorong pelaku usaha pariwisata mengubah pola kunjungan dengan menawarkan lokasi wisata lain yang masih dapat didatangi. Hotel Yoschi, misalnya, tetap menerima wisatawan asing dan mengarahkan mereka ke sejumlah destinasi alternatif di kawasan penyangga Bromo.

Agen perjalanan juga mengalihkan wisatawan ke Seruni Point, Bromo Sky Bridge atau Jembatan Kaca, serta Air Terjun Madakaripura. Pengalihan tersebut dilakukan agar wisatawan tetap memperoleh pengalaman menikmati panorama alam di sekitar Bromo selama kawasan utama belum dapat diakses.

Salah satu wisatawan asal Italia, Rebecca, mengaku sempat kecewa karena tidak dapat mengunjungi kawah Bromo. Meski demikian, ia tetap melanjutkan perjalanan setelah memperoleh informasi mengenai sejumlah destinasi alternatif yang aman untuk dikunjungi.

“Sempat kecewa karena tidak bisa masuk dan menikmati dan melihat kawah Gunung Bromo dari dekat, namun masih bisa menikmati wisata alternatif yang masih bisa kita kunjungi” kata Rebecca, menggunakan bahasa Inggris.

Pemilik Hotel Yoschi, Digdoyo Jamaludin, mengatakan penurunan tingkat hunian memang terjadi karena adanya pembatalan kunjungan. Namun, wisatawan mancanegara masih menunjukkan minat untuk datang ke kawasan tersebut, sebagaimana diberitakan Detik, Rabu (12/08/2026).

Menurut Digdoyo, keberadaan agen perjalanan yang menawarkan pilihan destinasi lain menjadi salah satu faktor yang membuat aktivitas wisata masih dapat berlangsung di tengah penutupan akses kawah.

Ia menilai kawasan penyangga Bromo memiliki potensi yang dapat dikembangkan lebih jauh sehingga tidak hanya menjadi pilihan sementara ketika destinasi utama ditutup. Penguatan fasilitas di lokasi-lokasi tersebut juga dinilai penting untuk menjaga kenyamanan wisatawan.

“Fasilitas di destinasi alternatif perlu terus ditingkatkan agar wisatawan tetap nyaman dan tidak membatalkan perjalanan ke Probolinggo,” ujarnya, Rabu (12/08/2026).

Di sisi lain, kebakaran masih memengaruhi kondisi kawasan Bromo. Hingga Rabu siang, kepulan asap masih terlihat dari sejumlah titik di kawasan Dingklik, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan. Akses wisatawan menuju kawah Bromo juga masih ditutup sebagai bagian dari penanganan kebakaran.

Dengan kondisi tersebut, keberadaan destinasi penyangga menjadi salah satu strategi untuk mempertahankan pergerakan wisatawan sekaligus mengurangi dampak ekonomi akibat penutupan kawasan utama. Keberlanjutan aktivitas pariwisata tetap bergantung pada perkembangan penanganan kebakaran dan pembukaan kembali akses menuju kawah Bromo. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *