Wall Street Menguat, S&P 500 Tembus Rekor Tertinggi
NEW YORK – Ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) menjadi pendorong utama penguatan bursa saham Amerika Serikat (AS) pada Kamis (13/08/2026). Indeks S&P 500 mencatat rekor penutupan baru setelah data inflasi produsen AS menunjukkan tekanan harga yang lebih rendah dari perkiraan, sehingga investor semakin yakin The Fed belum perlu menaikkan suku bunga pada September.
S&P 500 menguat 0,65 persen menjadi 7.798,99, melampaui rekor penutupan sebelumnya pada Jumat pekan lalu. Indeks Nasdaq juga naik 0,81 persen ke level 26.803,03, sedangkan Dow Jones Industrial Average bertambah 0,13 persen menjadi 53.839,99.
Data harga produsen menunjukkan tidak terjadi perubahan harga secara keseluruhan pada Juli. Penurunan harga barang mampu mengimbangi kenaikan tipis biaya jasa. Kondisi tersebut dinilai memberikan sinyal bahwa tekanan inflasi di tingkat produsen belum kembali meningkat secara signifikan.
Sebagaimana diberitakan Kontan, Jumat, (14/8/2026), pelaku pasar juga mencermati data ketenagakerjaan yang menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran meningkat secara moderat pada pekan sebelumnya. Perkembangan tersebut menunjukkan pasar tenaga kerja masih berada dalam kondisi relatif stabil.
Kombinasi data inflasi dan ketenagakerjaan tersebut membuat investor meningkatkan keyakinan bahwa The Fed dapat mempertahankan suku bunga pada pertemuan September. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan tersebut mencapai 63 persen.
Sektor teknologi menjadi salah satu penggerak utama penguatan Wall Street. Saham Sandisk melonjak 13,7 persen, sedangkan Micron Technology naik 4,2 persen. Microsoft menguat hampir 1 persen dan Meta Platforms bertambah 2,8 persen.
Kenaikan saham teknologi turut ditopang optimisme terhadap prospek kecerdasan buatan (AI). Performa dan proyeksi bisnis positif dari sejumlah perusahaan besar, termasuk Microsoft dan Amazon, dalam beberapa pekan terakhir membantu mengurangi kekhawatiran investor terhadap tingginya investasi untuk membangun pusat data AI.
“Boom teknologi yang didorong oleh kinerja perusahaan terus berlanjut,” kata Jay Hatfield, Chief Executive Officer (CEO) Infrastructure Capital Advisors di New York.
Menurut Hatfield, kenaikan saham teknologi saat ini lebih banyak mencerminkan peningkatan kinerja perusahaan dibandingkan terbentuknya gelembung harga aset.
Penguatan juga terlihat di sebagian besar sektor S&P 500. Sebanyak tujuh dari 11 sektor berakhir di zona hijau. Sektor komunikasi menjadi yang terkuat dengan kenaikan 1,56 persen, diikuti sektor properti yang meningkat 1,34 persen.
Sejumlah saham mencatat pergerakan tajam setelah investor mencermati laporan kinerja perusahaan. Dell Technologies naik 2,1 persen, sementara HP menguat 6,9 persen setelah hasil kuartalan Lenovo dari China melampaui ekspektasi pasar.
Netflix turut mencatat kenaikan 5,4 persen setelah investor miliarder Bill Ackman mengungkapkan kepemilikan baru pada perusahaan layanan streaming tersebut sebagai bagian dari perubahan besar portofolio Pershing Square dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, tidak seluruh saham bergerak positif. Cisco Systems anjlok 8,4 persen meskipun perusahaan memperkirakan pendapatan yang kuat. Proyeksi tersebut dinilai belum mampu memenuhi ekspektasi investor yang sebelumnya sudah tinggi.
Saham Tapestry, pemilik merek Coach, juga jatuh lebih dari 16 persen setelah perusahaan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan tahunan yang moderat. CoreWeave, perusahaan layanan cloud berbasis AI, turun 1,3 persen setelah sehari sebelumnya melonjak 19 persen karena peningkatan proyeksi belanja modal tahunan.
Dari pasar komoditas, harga minyak mentah Brent turun sekitar 2 persen menjadi US$87,07 per barel. Pergerakan harga minyak berlangsung di tengah ketegangan Iran dan AS terkait upaya mengakhiri perang Iran secara permanen, sementara lalu lintas melalui Selat Hormuz masih sangat terbatas.
Secara kumulatif sejak awal 2026, S&P 500 telah menguat sekitar 14 persen, sedangkan Nasdaq naik sekitar 15 persen. Di S&P 500, jumlah saham yang menguat mencapai 1,7 kali dibandingkan saham yang melemah. Sebanyak 30 saham mencetak level tertinggi baru, sementara satu saham mencatat level terendah baru.
Di Nasdaq, sebanyak 155 saham mencapai level tertinggi baru dan 85 saham berada pada level terendah baru. Meski indeks utama menguat, aktivitas perdagangan tergolong sepi dengan volume transaksi mencapai 16,1 miliar saham, lebih rendah dibandingkan rata-rata 20 sesi sebelumnya yang berada di level 17,5 miliar saham.
Pergerakan Wall Street berikutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan data ekonomi dan arah kebijakan The Fed. Bagi investor, stabilnya pasar tenaga kerja dan melandainya tekanan harga menjadi sinyal penting dalam memperkirakan ruang kebijakan moneter AS ke depan. []
Redaksi01
