Rupiah Diprediksi Menguat Terbatas Pekan Depan, Ini Pemicunya

JAKARTA – Nilai tukar rupiah diperkirakan masih memiliki ruang untuk menguat secara terbatas pada perdagangan pekan depan, meski pergerakannya berpotensi cenderung mendatar. Peluang tersebut dipengaruhi oleh meredanya ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), sementara risiko geopolitik dan harga minyak tetap menjadi ancaman bagi rupiah.

Mengacu pada data Bloomberg yang diberitakan Kontan, Sabtu, (15/08/2026), rupiah di pasar spot ditutup pada level Rp17.827 per dolar AS. Posisi tersebut menunjukkan penguatan Rp50 atau 0,28 persen dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya.

Dalam perhitungan mingguan, rupiah spot menguat 0,39 persen dari posisi Rp17.897 per dolar AS pada pekan sebelumnya. Penguatan juga tercermin pada kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) yang berada di level Rp17.836 per dolar AS atau naik Rp46 atau 0,26 persen secara harian.

Secara mingguan, rupiah Jisdor menguat 0,43 persen dari posisi Rp17.913 per dolar AS.

Analis PT Finex Bisnis Solusi Futures, Brahmantya Himawan, menilai salah satu faktor utama yang menopang rupiah adalah perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Data inflasi AS yang relatif terkendali membuat pelaku pasar mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga pada September. Kondisi itu turut menekan dolar AS sehingga memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih kuat.

“Setelah data tersebut, pasar memangkas probabilitas kenaikan suku bunga September menjadi sekitar 35%, dari sekitar 55% pada pekan sebelumnya. Kondisi ini ikut menahan dolar, dengan DXY berada di sekitar area 99-100, sehingga memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat,” ujar Brahmantya kepada Kontan, Jumat (14/08/2026).

Data consumer price index (CPI) AS pada Juli disebut relatif terkendali. Sementara itu, producer price index (PPI) AS tidak mencatat kenaikan secara bulanan. Kedua indikator tersebut menjadi perhatian pasar karena dapat memengaruhi arah kebijakan moneter The Fed.

Selain faktor eksternal, kondisi domestik turut menjadi penopang. BI mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,75 persen pada Juli setelah sebelumnya mengambil kebijakan kenaikan suku bunga secara agresif.

BI bersama pemerintah juga terus menjaga daya tarik imbal hasil aset dalam denominasi rupiah. Kebijakan tersebut dinilai penting untuk mempertahankan aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar.

Namun, penguatan rupiah belum sepenuhnya terbebas dari tekanan. Brahmantya mengingatkan kenaikan harga minyak akibat ketidakpastian hubungan AS-Iran dapat kembali meningkatkan kebutuhan dolar di dalam negeri.

“Indonesia merupakan net importer minyak. Jika harga energi kembali melonjak, tekanan terhadap neraca perdagangan, inflasi, dan kebutuhan dolar domestik bisa meningkat,” jelasnya.

Risiko tersebut menjadi semakin penting karena kenaikan harga energi dapat memberikan dampak berantai terhadap perekonomian. Ketika harga minyak meningkat, biaya impor energi berpotensi bertambah, sementara tekanan inflasi dan kebutuhan valuta asing dapat ikut meningkat.

Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama perkembangan hubungan AS-Iran dan situasi di Selat Hormuz, menjadi faktor yang akan dicermati pelaku pasar pada pekan depan.

Selain geopolitik, arah kebijakan The Fed juga menjadi faktor penting. Meskipun perkembangan inflasi AS memberikan sentimen positif bagi rupiah, inflasi di negara tersebut masih berada di atas target. Apabila data ekonomi berikutnya menunjukkan penguatan atau harga energi melonjak tajam, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat kembali meningkat.

Perubahan ekspektasi tersebut berpotensi memperkuat indeks dolar AS atau Dollar Index (DXY) dan memberikan tekanan terhadap rupiah.

Dari dalam negeri, pelaku pasar akan memantau kebijakan BI serta perkembangan arus modal asing. Stabilitas nilai tukar dan tidak terjadinya arus keluar modal dalam jumlah besar menjadi faktor yang dapat membantu rupiah mempertahankan tren penguatannya.

Untuk perdagangan pekan depan, Brahmantya memperkirakan rupiah bergerak sideways dengan kecenderungan menguat secara terbatas. Pergerakan tersebut diperkirakan berlangsung dalam kisaran Rp17.700 hingga Rp18.000 per dolar AS.

Dengan demikian, ruang penguatan rupiah masih terbuka, tetapi keberlanjutan tren tersebut sangat bergantung pada kombinasi sentimen global, arah kebijakan The Fed, stabilitas harga energi, kebijakan BI, serta pergerakan modal asing. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *