Minyak Dunia Kembali Naik, Selat Hormuz Jadi Sorotan

JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali naik pada perdagangan Jumat (14/08/2026) setelah ancaman blokade terhadap pelabuhan Iran oleh Amerika Serikat (AS) memunculkan kekhawatiran baru terhadap kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz.

Kenaikan tersebut terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat melemah sekitar 2 persen. Namun, sentimen geopolitik kembali mendorong pasar sehingga minyak mentah Brent dan West Texas Intermediate (WTI) ditutup lebih tinggi.

Mengutip CNBC sebagaimana diberitakan Liputan6, Sabtu, (15/08/2026), harga minyak Brent sebagai patokan global naik 1,7 persen menjadi 88,52 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak WTI naik 1,4 persen dan berakhir pada level 82,40 dolar AS per barel.

Secara mingguan, kedua minyak acuan tersebut masih mencatat kenaikan lebih dari 5 persen. Pergerakan itu menunjukkan bahwa risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menjadi perhatian utama pelaku pasar energi.

Sentimen positif terhadap harga minyak terutama muncul setelah Menteri Keuangan AS Scott Bessent memperingatkan kemungkinan penerapan sejumlah kebijakan yang ditujukan untuk menciptakan isolasi ekonomi terhadap Iran.

Dalam wawancara dengan Newsmax, Bessent mengatakan langkah-langkah tersebut “have never been seen” atau belum pernah terjadi sebelumnya.

Situasi semakin memanas setelah Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyampaikan bahwa pasukan AS dapat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan Iran tanpa batas waktu. Pernyataan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan jalur perdagangan energi.

Kekhawatiran itu juga diperkuat oleh laporan Uni Emirat Arab (UEA) yang menyebut Iran menyerang dua kapal milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) ketika melintas di Selat Hormuz.

Selat Hormuz menjadi titik perhatian karena kawasan tersebut merupakan salah satu jalur strategis dalam perdagangan energi global. Gangguan terhadap lalu lintas kapal di wilayah itu berpotensi memengaruhi distribusi minyak dan meningkatkan ketidakpastian harga komoditas energi.

Sebelum sentimen geopolitik kembali menguat, pasar sempat mendapatkan sinyal yang meredakan kekhawatiran pasokan. Menteri Energi AS Chris Wright sebelumnya menyatakan volume ekspor minyak yang melewati Selat Hormuz lebih tinggi dibandingkan sejumlah perkiraan independen.

Pernyataan tersebut sempat membantu menekan kekhawatiran pasar mengenai kemungkinan gangguan pasokan. Kondisi itu turut menjadi salah satu faktor yang membuat harga minyak melemah pada perdagangan Kamis.

Namun, perkembangan terkait potensi blokade dan meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran kembali mengubah sentimen pasar. Pelaku pasar kini kembali memperhitungkan risiko terhadap arus pengiriman minyak melalui jalur strategis tersebut.

Di sisi lain, prospek permintaan minyak global justru menghadapi tekanan. Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) memperkirakan pertumbuhan permintaan minyak dunia pada tahun ini akan lebih rendah dibandingkan perkiraan sebelumnya.

IEA juga menyoroti tekanan terhadap aktivitas ekonomi dan arus energi di sekitar Selat Hormuz sebagai salah satu faktor yang dapat memengaruhi prospek permintaan minyak global.

Pergerakan harga minyak selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan konflik dan kebijakan AS terhadap Iran. Jika gangguan pelayaran di Selat Hormuz benar-benar terjadi, kekhawatiran mengenai pasokan dapat kembali meningkat dan mendorong volatilitas harga minyak dunia.

Sebaliknya, apabila jalur pelayaran tetap berjalan tanpa gangguan berarti, tekanan terhadap harga minyak dapat mereda seiring pasar kembali memperhitungkan kondisi permintaan global. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *