BSI Cetak Laba Rp4,16 Triliun, Nasabah Naik Jadi 24,3 Juta

JAKARTA – PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) mencatat penambahan sekitar 1,1 juta nasabah sepanjang semester I 2026, menjadi salah satu penopang pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp393 triliun hingga akhir Juni. Pertumbuhan nasabah tersebut menjadi capaian akuisisi tertinggi sejak BSI berdiri.

Selain basis nasabah yang semakin besar, BSI mencatat dana murah atau current account saving account (CASA) sebesar Rp238,30 triliun. Nilai tersebut setara 60,58 persen dari total DPK dan turut mendukung kondisi likuiditas perseroan di tengah persaingan penghimpunan dana yang ketat.

Direktur Utama (Dirut) BSI Anggoro Eko Cahyo mengatakan kinerja perseroan hingga kuartal II 2026 tetap tumbuh positif dan berkelanjutan. Hal tersebut disampaikan dalam konferensi pers secara daring di Jakarta, Jumat (21/08/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Jumat (21/08/2026).

“Alhamdulillah, kalau kita lihat kinerja BSI pada kuartal II ini tumbuh positif dan sustain,” kata Anggoro.

Secara keseluruhan, laba bersih BSI hingga Juni 2026 mencapai Rp4,16 triliun atau meningkat 11,08 persen secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan laba tersebut antara lain didukung pendapatan berbasis biaya (fee-based income) yang meningkat 38,16 persen secara tahunan.

Dari sisi skala usaha, total aset BSI telah mencapai Rp464 triliun atau tumbuh 15,96 persen secara tahunan. Sementara itu, DPK meningkat 21,81 persen menjadi Rp393 triliun.

Pertumbuhan penghimpunan dana terutama ditopang tabungan yang mencapai Rp173 triliun atau naik 22,32 persen. Tabungan payroll berkontribusi Rp61,5 triliun dengan pertumbuhan 20,53 persen, sedangkan tabungan haji dan umrah mencapai Rp16,7 triliun atau meningkat 17,21 persen.

Direktur Keuangan dan Strategi BSI Ade Cahyo Nugroho mengatakan pertumbuhan tabungan turut ditopang karakteristik produk perbankan syariah, termasuk tabungan haji yang dinilai memiliki pertumbuhan konsisten.

“Termasuk juga kami sangat bersyukur semakin banyak nasabah terutama pegawai payroll yang memindahkan operastonal account-nya atau salary account-nya ke Bank Syariah Indonesia sehingga ini menjadi kontribusi terhadap pertumbuhan tabungan Bank Syariah Indonesia,” kata dia.

Menurut Ade, pertambahan nasabah sepanjang enam bulan pertama 2026 mencapai sekitar 1,1 juta orang. Dengan tambahan tersebut, total nasabah BSI mencapai 24,3 juta.

“Angka ini juga merupakan angka akuisisi tertinggi yang pernah dicapai BSI sejak berdiri, di mana satu semester nasabah BSI bisa bertambah 1,1 juta sehingga mencapai 24,3 juta nasabah, yang menjadikan BSI sebagai salah satu bank terbesar dari sisi jumlah nasabah di Indonesia,” kata dia.

Pertumbuhan DPK juga diikuti dengan perbaikan biaya dana (cost of fund/CoF) yang berada di level 2,19 persen per akhir Juni 2026. BSI menyatakan capaian tersebut menjadi salah satu indikator yang ingin dipertahankan ketika kondisi likuiditas industri perbankan masih ketat.

“Jadi ini sesuatu yang ingin kami pertahankan di tengah situasi yang kondisi likuiditas yang sedang atau masih ketat sampai dengan hari ini,” kata Ade Cahyo.

Di sisi penyaluran dana, total pembiayaan BSI tumbuh 15,98 persen secara tahunan menjadi Rp340 triliun. Pertumbuhan tersebut turut meningkatkan pangsa pasar (market share) pembiayaan BSI terhadap industri perbankan nasional menjadi 3,75 persen.

Pembiayaan segmen wholesale tumbuh 16,62 persen menjadi Rp94,99 triliun. Segmen korporasi menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 21,13 persen hingga mencapai Rp75,55 triliun.

Sementara itu, pembiayaan ritel meningkat 12,58 persen menjadi Rp55,83 triliun. Di dalam segmen tersebut, pembiayaan usaha kecil dan menengah atau small and medium enterprise (SME) tumbuh 19,98 persen menjadi Rp26,89 triliun.

Adapun pembiayaan consumer, gold, dan card tumbuh 16,70 persen menjadi Rp189,28 triliun. Direktur Manajemen Risiko BSI Grandhis Helmi Harumansyah mengatakan segmen tersebut masih menjadi penyumbang terbesar terhadap keseluruhan pembiayaan BSI.

“Segmen ini tetap menjadi kontributor utama atau bagian terbesar dari total pembiayaan BSI yaitu lebih dari separuh. Sebesar 55,65 persen pembiayaan consumer, gold, dan card ini merupakan penopang dari pembiayaan BSI,” kata Grandhis.

Dari aspek kualitas pembiayaan, rasio non-performing financing (NPF) gross dan net masing-masing membaik menjadi 1,8 persen dan 0,33 persen. Sementara itu, biaya kredit (cost of credit/CoC) turun ke level 0,62 persen.

BSI juga memperkuat cash coverage hingga mencapai 245,3 persen pada Juni 2026. Penguatan tersebut salah satunya berkaitan dengan penerapan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Syariah 413 yang mulai diterapkan perseroan pada 2026.

Dengan pertumbuhan nasabah, penghimpunan DPK, penyaluran pembiayaan, serta kualitas aset yang tetap terjaga, BSI memasuki paruh kedua 2026 dengan basis bisnis yang semakin besar. Tantangan berikutnya ialah mempertahankan pertumbuhan dana dan pembiayaan sekaligus menjaga kualitas serta efisiensi di tengah persaingan likuiditas industri perbankan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *