BSI Ungkap Tantangan Keuangan Syariah: Literasi Tinggi, Inklusi Rendah

BANDAR LAMPUNG – Tingkat literasi keuangan syariah di Indonesia dinilai telah melampaui tingkat inklusinya. Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat mulai memiliki pemahaman mengenai layanan keuangan syariah, tetapi akses terhadap produk dan layanan tersebut masih perlu diperluas, terutama untuk menjangkau generasi muda.

Direktur Sales & Distribution PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk atau BSI, Anton Sukarna, mengatakan kondisi tersebut menjadi salah satu tantangan yang perlu dijawab industri perbankan syariah. Menurut dia, peningkatan pemahaman masyarakat harus berjalan beriringan dengan perluasan akses agar pengetahuan mengenai keuangan syariah tidak berhenti pada aspek edukasi.

“Sebenarnya kalau kita lihat ya, literasi dan inklusi syariah itu justru posisinya literasinya lebih tinggi. Inklusinya masih tertinggal,” kata Anton.

Pernyataan tersebut disampaikan Anton di sela-sela Lampung Financial Festival 2026 di Novotel Bandar Lampung, Minggu (06/09/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) pada 5-6 September 2026 itu menjadi salah satu ruang edukasi masyarakat mengenai sektor keuangan dan penjaminan simpanan, termasuk memperkenalkan layanan keuangan syariah.

Informasi mengenai kegiatan dan pernyataan tersebut sebagaimana diberitakan Cnbc Indonesia, Minggu (06/09/2026).

Menurut Anton, kegiatan literasi secara langsung memiliki nilai penting karena dapat mempertemukan masyarakat dengan informasi mengenai produk dan layanan keuangan. Edukasi semacam itu dinilai semakin relevan bagi generasi muda yang menjadi salah satu kelompok pengguna potensial layanan keuangan di masa mendatang.

“Menurut saya bagus, karena dia menyampaikan terkait literasi termasuk inklusi keuangan. Kalau buat kami, di perbankan syariah, itu jauh lebih bermanfaat. Karena dia meningkatkan literasi perbankan syariah, maupun juga inklusinya secara langsung. Terutama di kalangan anak muda,” kata Anton saat ditemui di sela-sela Lampung Financial Festival di Novotel Bandar Lampung, Minggu (06/09/2026).

Untuk mengejar ketertinggalan dari sisi inklusi, BSI mengembangkan sejumlah saluran layanan yang memungkinkan masyarakat mengakses perbankan syariah dengan lebih mudah. Kanal digital dan model keagenan menjadi bagian dari strategi tersebut.

“Sekarang kita punya digital model, kita punya juga model-model keagenan. Beberapa tempat kita akan coba tetap buka dalam bentuk campur-campur seperti biasa. Kita berharap kita bisa kejar terkait dengan inklusinya,” tuturnya.

Anton juga menilai edukasi keuangan tidak cukup hanya membahas layanan perbankan. Pemahaman mengenai investasi perlu menjadi bagian dari literasi karena masyarakat, terutama anak muda, menghadapi beragam tawaran investasi di tengah perkembangan teknologi dan informasi digital.

“Apalagi sekarang yang dibahas terkait investasi. Itu penting supaya ada literasi yang clear. Supaya anak-anak kita yang muda-muda ini tidak terjebak oleh investasi-investasi yang tidak jelas,” ujarnya.

Bagi Anton, kegiatan literasi yang mempertemukan pelaku industri keuangan dengan masyarakat dapat menjadi salah satu cara untuk memperkecil jarak antara pemahaman dan penggunaan layanan keuangan. Ia mengapresiasi LPS yang secara rutin menjalankan kegiatan edukasi keuangan di berbagai daerah.

“Acara-acara semacam ini terus terang sesuatu yang sangat luar biasa. Karena dia bisa langsung meningkatkan inklusi, tapi juga langsung menyelesaikan urusan inklusi,” ujarnya.

Upaya memperkuat literasi dan inklusi tersebut menjadi semakin penting di Lampung karena tingkat pemahaman masyarakat mengenai penjaminan simpanan masih berada di bawah rata-rata nasional. Berdasarkan pemetaan LPS, tingkat pengetahuan masyarakat secara nasional mengenai adanya jaminan terhadap simpanan mencapai sekitar 62,5 persen.

Sementara itu, tingkat literasi penjaminan simpanan masyarakat Lampung tercatat sekitar 58,5 persen. Artinya, masih terdapat ruang untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai sistem keuangan dan jaminan atas dana yang disimpan di perbankan.

LPS menargetkan tingkat literasi tersebut terus meningkat dalam beberapa tahun mendatang. Wakil Ketua Dewan Komisioner (DK) LPS, Farid Azhar Nasution, berharap tingkat literasi dapat mencapai sekitar 80 persen dalam lima tahun ke depan.

Target tersebut sekaligus menunjukkan bahwa penguatan literasi keuangan masih menjadi pekerjaan penting di tingkat daerah. Bagi industri perbankan syariah, tantangannya bukan hanya membuat masyarakat semakin memahami produk keuangan syariah, tetapi juga memastikan layanan tersebut semakin mudah dijangkau sehingga pemahaman dapat berujung pada penggunaan layanan yang aman dan sesuai kebutuhan. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *