Bursa Asia Bergerak Mixed, Investor Fokus Menanti Laporan Keuangan Emiten

A pedestrian walks past an electronic quotation board displaying Japanese companies' stock prices on the Tokyo Stock Exchange in Tokyo on January 21, 2021. (Photo by Behrouz MEHRI / AFP)

JAKARTA – Sentimen global kembali membayangi perdagangan pasar saham Asia pada awal pekan. Lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta penantian investor terhadap laporan keuangan perusahaan teknologi global membuat pergerakan bursa di kawasan berlangsung bervariasi pada Senin (20/07/2026).

Hingga pukul 08.19 WIB, sejumlah indeks utama di Asia bergerak beragam. Indeks Hang Seng menguat 272,79 poin atau 1,11 persen ke level 24.835,03. Indeks Taiex naik 235,10 poin atau 0,50 persen menjadi 42.885,73. Sementara itu, indeks Kospi terkoreksi 156,82 poin atau 2,34 persen ke posisi 6.661,12.

Di kawasan lain, indeks ASX 200 menguat 10,75 poin atau 0,12 persen menjadi 8.807,50. Indeks Straits Times bertambah 8,31 poin atau 0,16 persen ke level 5.519,45, sedangkan FTSE Malaysia naik tipis 0,69 poin atau 0,04 persen menjadi 1.732,06.

Pergerakan tersebut dipengaruhi meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi setelah harga minyak mentah melonjak tajam. Sebagaimana diwartakan Kontan, Senin (20/07/2026), harga minyak mentah Brent sempat naik sekitar 3 persen hingga melampaui 90 dolar Amerika Serikat (United States Dollar/US$) per barel, menyusul berlanjutnya eskalasi konflik di kawasan Teluk.

Kenaikan harga energi memunculkan kembali kekhawatiran terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral, meskipun data inflasi konsumen di Amerika Serikat sebelumnya menunjukkan perlambatan. Pelaku pasar kini mencermati peluang pengetatan kebijakan moneter yang lebih cepat dibandingkan proyeksi sebelumnya.

“Perkiraan kami adalah perubahan yang lebih bertahap menuju kenaikan suku bunga Fed pada tahun 2027, tetapi keseimbangan risiko bergeser ke arah kenaikan yang lebih awal dari yang diperkirakan,” kata Bruce Kasman.

Selain isu inflasi, perhatian investor juga tertuju pada musim laporan keuangan emiten teknologi yang diperkirakan akan menjadi penentu arah pasar global dalam beberapa hari mendatang. Optimisme terhadap sektor teknologi masih cukup kuat karena industri semikonduktor diproyeksikan mencatat pertumbuhan laba yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Analis Bank of America (BofA), Savita Subramanian, memperkirakan kinerja laba perusahaan masih memiliki ruang untuk tumbuh sekitar 5 persen di atas konsensus pasar. Sektor teknologi diperkirakan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan tersebut, sementara industri semikonduktor berpotensi mencatat kenaikan laba hingga sekitar 130 persen secara tahunan.

Sentimen positif itu ikut mendorong kontrak berjangka indeks S&P 500 naik 0,2 persen dan Nasdaq menguat 0,4 persen pada perdagangan awal. Di Eropa, kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing naik 0,2 persen, sedangkan FTSE bergerak relatif datar.

Di sisi lain, pasar Jepang tidak melakukan perdagangan karena libur nasional setelah indeks Nikkei pada pekan sebelumnya terkoreksi tajam akibat tekanan pada saham-saham teknologi. Sementara itu, indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) Asia-Pasifik di luar Jepang melemah 0,3 persen, sedangkan pasar saham Korea Selatan masih berada dalam tekanan setelah mengalami penurunan tajam pada pekan lalu.

Pelaku pasar juga menantikan hasil rapat Bank Sentral Eropa yang dijadwalkan berlangsung pekan ini. Bank sentral diperkirakan mempertahankan suku bunga acuan di level 2,25 persen, meski pasar mulai memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya apabila tekanan inflasi kembali meningkat akibat lonjakan harga energi. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *