DKP Kukar Dorong Inovasi Sistem Resirkulasi Hadapi Kemarau Tahun Depan
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Kutai Kartanegara, Muslik.
Menyusutnya debit Sungai Mahakam dan mengeringnya sejumlah kolam mendorong DKP Kukar mengembangkan sistem resirkulasi akuakultur agar kegiatan budi daya ikan dapat tetap berjalan dengan kebutuhan air yang lebih efisien.
ADVERTORIAL – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutai Kartanegara (Kukar) melalui Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) mendorong pengembangan sistem resirkulasi akuakultur untuk menjaga keberlangsungan budi daya ikan di tengah menyusutnya sumber air akibat kemarau. Teknologi tersebut diproyeksikan menjadi salah satu alternatif menghadapi keterbatasan air pada musim kemarau berikutnya.
Kepala Dinas (Kadis) Kelautan dan Perikanan Kukar Muslik mengatakan kemarau yang berlangsung saat ini mulai berdampak terhadap kegiatan budi daya perikanan, terutama usaha yang bergantung pada pasokan air dari danau dan Sungai Mahakam.
Sejumlah danau mengalami penyusutan, sementara debit Sungai Mahakam juga menurun. Kondisi tersebut mulai memengaruhi aktivitas pembudidaya di sejumlah sentra perikanan, antara lain Kecamatan Loa Kulu dan Kecamatan Kenohan.
“Dengan keterbatasan air, budidaya sistem resirkulasi itu menjadi pilihan bagi kita,” kata Muslik kepada Prudensi.com dalam wawancara melalui telepon, Jumat (18/09/2026).
Menurut Muslik, penyusutan permukaan air bahkan membuat keramba ikan di Kecamatan Loa Kulu harus digeser semakin ke tengah Sungai Mahakam agar tetap memperoleh kedalaman air yang memadai.
Dampak kemarau juga dirasakan pada kolam pendederan dan pembesaran ikan. Sejumlah kolam mengalami kekeringan sehingga mengganggu proses produksi, mengingat ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama dalam keberlangsungan usaha budi daya perikanan.
DKP Kukar karena itu melihat sistem resirkulasi akuakultur sebagai salah satu teknologi yang dapat dikembangkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap pasokan air baru. Melalui sistem tersebut, air dalam fasilitas budi daya disirkulasikan dan digunakan kembali sehingga pemakaian air dapat ditekan.
“Kalau dalam kondisi air berlimpah tentu tidak menjadi masalah. Tetapi dalam kondisi air yang terbatas, teknologi seperti ini sangat penting, sehingga air bisa terus berputar dan dimanfaatkan,” jelasnya.
Muslik mengatakan sistem budi daya konvensional relatif lebih murah dan mudah diterapkan. Namun, sistem tersebut menghadapi kendala ketika sumber air menyusut sehingga diperlukan teknologi yang memungkinkan proses pemeliharaan ikan tetap berjalan dengan penggunaan air yang lebih efisien.
Pengembangan sistem resirkulasi juga diarahkan sebagai langkah adaptasi jangka panjang agar sektor perikanan budi daya Kukar lebih siap menghadapi perubahan kondisi lingkungan dan keterbatasan sumber air pada musim kemarau.
Menurut Muslik, teknologi dengan konsep resirkulasi sebenarnya telah diuji dalam skala kecil, salah satunya menggunakan kolam terpal yang dilengkapi pompa untuk menjaga sirkulasi air.
Sistem tersebut memungkinkan air digunakan kembali dalam proses budi daya. Namun, DKP Kukar menilai penerapannya masih perlu dikembangkan ke skala lebih besar agar dapat dimanfaatkan secara lebih luas oleh pembudidaya.
“Yang kita mau coba adalah skala-skala besarnya. Saat ini sebenarnya dari program pemerintah, yang sedang kita tunggu adalah program perikanan budidaya tematik,” katanya.
DKP Kukar berharap program perikanan budi daya tematik dapat mengakomodasi penggunaan sistem resirkulasi dan mulai dikembangkan di Kukar pada 2027. Muslik menyebut pelaksanaan program tersebut pada tahun ini masih difokuskan di Pulau Jawa.
Selain mengembangkan teknologi resirkulasi, DKP Kukar menilai dukungan infrastruktur sumber air tetap diperlukan. Sumur bor dan sarana pengairan lainnya dapat menjadi alternatif untuk menjaga pasokan air bagi kawasan budi daya yang terdampak kemarau.
Normalisasi saluran atau sungai juga dapat dipertimbangkan di kawasan yang dipengaruhi pasang surut Sungai Mahakam agar aliran air tetap dapat menjangkau wilayah daratan.
Namun, Muslik menilai penggunaan pompa tidak akan efektif apabila sumber air sudah tidak tersedia akibat penurunan debit yang signifikan. Kondisi tersebut menyebabkan sebagian kegiatan budi daya terpaksa dihentikan sementara.
Karena itu, sistem resirkulasi dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan pembudidaya terhadap pasokan air dari sumber eksternal sekaligus menjaga proses pembenihan hingga pembesaran ikan saat kondisi lingkungan kurang mendukung.
“Saat ini sedang dikembangkan. Mudah-mudahan ke depan teknologi seperti ini bisa menjawab tantangan kondisi kekeringan seperti ini,” ujarnya.
Pengalaman menghadapi kemarau tahun ini akan menjadi bahan evaluasi Pemkab Kukar dalam menyiapkan strategi adaptasi sektor perikanan. Pengembangan teknologi hemat air diharapkan memberi pilihan bagi pembudidaya agar kegiatan produksi tetap dapat berlangsung ketika ketersediaan air kembali menurun pada musim kemarau berikutnya. []
Penulis: Jemi Irlanda Haikal | Penyunting: Aulia Setyaningrum
