Gangguan Selat Hormuz Tekan Pasokan, Harga Minyak Kembali Naik
HOUSTON – Gangguan lalu lintas energi di Selat Hormuz kembali menjadi perhatian pasar setelah hanya tujuh kapal komoditas tercatat melintasi jalur perairan tersebut pada Kamis (20/08/2026), atau sekitar separuh dari jumlah kapal pada hari sebelumnya. Kondisi itu terjadi ketika pasar minyak juga menghadapi ancaman sanksi ekonomi Amerika Serikat terhadap mitra dagang Iran.
Terbatasnya aktivitas pelayaran di jalur strategis tersebut ikut menjaga kekhawatiran terhadap pasokan minyak global. Harga minyak mentah berjangka Brent sebagai patokan internasional pada perdagangan Jumat (21/08/2026) ditutup naik 61 sen atau 0,65 persen menjadi 94,39 dolar AS per barel.
Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) meningkat 23 sen atau 0,26 persen menjadi 87,06 dolar AS per barel. Dalam sepekan, Brent telah menguat 6,39 persen, sedangkan WTI naik 5,66 persen. Kedua harga acuan tersebut bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 24 Juli pada perdagangan sebelumnya.
Data layanan pelacakan kapal Kpler menunjukkan aktivitas pelayaran di Selat Hormuz masih jauh dari kondisi normal. Sebelum serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada akhir Februari, jalur tersebut menjadi salah satu rute utama distribusi energi dunia karena menangani sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) global.
Kondisi tersebut menjadi semakin penting karena konflik telah mendekati bulan keenam dan gangguan terhadap arus energi melalui Selat Hormuz masih berlangsung. Harga minyak juga mendapat tekanan dari kekhawatiran berlanjutnya pembatasan pasokan sejumlah produsen utama, antara lain Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
John Kilduff, mitra di Again Capital, menilai ancaman sanksi menjadi salah satu faktor yang dapat meningkatkan tekanan terhadap Iran. “Sanksi adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Iran tunduk,” kata John Kilduff, sebagaimana dilansir Kontan, Sabtu (22/08/2026).
Iran merespons ancaman terbaru Washington dengan menyatakan bahwa tindakan balasan akan bersifat keras. Amerika Serikat sebelumnya berjanji menjatuhkan hukuman finansial terberat dalam sejarah dengan tujuan menggulingkan kepemimpinan Iran.
Analis riset Empire FX Crispus Nyaga menilai dampak langsung terhadap pasokan minyak kemungkinan masih terbatas karena ekspor Iran telah mengalami hambatan. Namun, eskalasi di jalur pelayaran dapat memperbesar risiko terhadap distribusi energi.
“Dampak langsung terhadap pasokan mungkin terbatas karena ekspor Iran sudah sangat terhambat oleh blokade angkatan laut AS,” kata Crispus Nyaga, analis riset di Empire FX. “Namun, peningkatan insiden pelayaran dan tindakan balasan terhadap sanksi ekonomi dapat memperburuk situasi saat ini, di tengah kondisi lalu lintas melalui Selat Hormuz yang masih jauh di bawah tingkat normal.”
Di tengah gangguan tersebut, pasar mulai mencari jalur dan sumber pasokan alternatif. Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group, mengatakan Selat Hormuz masih menjadi persoalan, tetapi bukan satu-satunya faktor yang menentukan pasokan minyak global.
“Hormuz masih menjadi masalah, tetapi bukan lagi satu-satunya isu utama,” ujar Flynn dalam catatan pagi. “Jalur pipa, kapal pengangkut (shuttle), minyak serpih (shale) AS, Venezuela yang mulai pulih (meski terkendala hambatan logistik), serta UEA yang tidak terkendala—semuanya turut menambah volume pasokan.”
Perubahan arus perdagangan juga mulai terlihat pada minyak mentah Iran. Penawaran minyak Iran kepada pembeli di Tiongkok disebut menurun, sementara harganya meningkat pada pekan ini. Kondisi tersebut terjadi ketika blokade AS mengurangi pengiriman minyak Iran dan Washington kembali mengancam pemberlakuan sanksi tambahan.
Kesepakatan damai sebelumnya antara AS dan Iran juga berakhir pada pekan ini tanpa adanya langkah dari kedua pihak untuk kembali memulai perundingan. Situasi tersebut membuat ketidakpastian mengenai kelancaran pasokan energi tetap tinggi.
Gangguan tidak hanya berasal dari kawasan Timur Tengah. Di Rusia, militer Ukraina menyerang kilang minyak di Perm pada malam hari. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy mengatakan lokasi tersebut berada lebih dari 1.600 kilometer dari perbatasan Ukraina.
Rangkaian gangguan itu membuat pasar minyak menghadapi kombinasi risiko geopolitik, hambatan pelayaran, serta keterbatasan distribusi. Meski sumber pasokan alternatif mulai dimanfaatkan, perkembangan di Selat Hormuz dan kebijakan sanksi AS terhadap Iran masih menjadi faktor penting yang dapat menentukan arah harga minyak dalam waktu mendatang. []
Redaksi01
