Gen Z Dominasi Pasar Rumah Subsidi, Penjualan di Batang Naik Empat Kali Lipat

BATANG – Lonjakan penjualan rumah subsidi di Kabupaten Batang, Jawa Tengah (Jateng), menjadi indikasi meningkatnya minat masyarakat usia muda untuk memiliki hunian sejak dini. Perubahan tersebut terlihat dari bertambahnya jumlah pembeli yang berasal dari Generasi Z (Gen Z), termasuk kalangan yang masih berstatus lajang. Fenomena ini turut mendorong kenaikan penjualan rumah subsidi hingga empat kali lipat dibandingkan sebelumnya.

Perubahan tren tersebut terungkap dalam kegiatan Akad Massal Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi di Kabupaten Batang, Kamis (30/07/2026). Sebagaimana dilansir Kompas, Kamis (30/07/2026), pengembang menilai kelompok usia produktif kini semakin sadar pentingnya memiliki rumah sebagai investasi jangka panjang.

Direktur Utama (Dirut) PT DwiWahana Deltamegah, Sri Widodo, mengatakan profil pembeli rumah subsidi mengalami pergeseran. Jika sebelumnya didominasi generasi milenial berusia 25 hingga 35 tahun yang telah berkeluarga, kini Gen Z mulai menjadi salah satu kelompok pembeli terbesar.

“Bahkan, ada pembeli berusia 20 tahun yang masih lajang sudah membeli rumah subsidi. Ini menunjukkan kesadaran Generasi Z terhadap pentingnya memiliki rumah mulai meningkat. Dan sebagian besar debitur kami mendapatkan pembiayaan KPR-nya dari BTN, termasuk kami sebagai developer (pengembang) dibantu pembiayaannya oleh BTN,” ujarnya.

Menurut Sri Widodo, sebagian besar konsumen rumah subsidi berasal dari kelompok usia 20 hingga 35 tahun yang bekerja sebagai buruh pabrik, karyawan swasta, maupun pekerja sektor informal di kawasan industri Batang dan sekitarnya.

Ia juga mengungkapkan penyelenggaraan akad massal memberikan dampak signifikan terhadap penjualan. Sebelum kegiatan tersebut, penjualan rumah subsidi di Batang berkisar 20 unit per bulan. Setelahnya, angka penjualan meningkat menjadi sekitar 70 hingga 80 unit setiap bulan.

Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) Himpunan Pengembang Permukiman dan Perumahan Rakyat (Himperra) Jawa Tengah (Jateng), Sugiyatno, menilai meningkatnya minat Gen Z dipengaruhi oleh berbagai kemudahan yang ditawarkan pemerintah melalui program rumah subsidi.

Dengan harga rumah sebesar Rp166 juta per unit, uang muka hanya satu persen, serta suku bunga tetap hingga masa kredit berakhir, rumah subsidi dinilai memberikan kepastian cicilan yang sulit diperoleh pada pembiayaan rumah komersial.

“Ketika bunga KPR komersial bersifat floating, rumah subsidi justru menawarkan kepastian cicilan sampai lunas. Ini menjadi daya tarik utama bagi masyarakat yang baru mulai bekerja,” katanya.

Sugiyatno menambahkan, sekitar 85 persen pembeli rumah subsidi di Jateng merupakan karyawan pabrik berusia 22 hingga 35 tahun. Pesatnya pertumbuhan kawasan industri di wilayah tersebut turut mendorong meningkatnya kebutuhan hunian bagi para pekerja.

Ia menjelaskan, pembangunan rumah subsidi yang sebelumnya terkonsentrasi di kawasan Semarang Raya kini mulai berkembang ke wilayah Pekalongan Raya seiring bertambahnya kawasan industri baru.

Untuk memenuhi tingginya permintaan, Himperra Jateng menargetkan pembangunan sekitar 15.000 unit rumah melalui skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sepanjang 2026. Hingga Juni 2026, realisasi program tersebut telah mencapai sekitar 3.000 unit dan menjadi yang tertinggi secara nasional.

“Kami memiliki 581 anggota pengembang dengan stok rumah sekitar 18.000 unit. Kami optimistis target realisasi 15.000 unit dapat tercapai hingga akhir tahun,” ujarnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *