Harga Anjlok, Petani Karet Kapuas Hulu Menjerit

Salah seorang petani karet di Desa Labian, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat, sedang mengolah karet yang akhir-akhir ini harganya  anjlok akibatnya petani mulai resah.(Foto:Istimewa)

PUTUSSIBAU-Sejumlah faktor menjadi pemicu anjloknya harga karet di tingkat pasar. Salah satunya disebabkan oleh kualitas karet yang masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari harga karet yang tetap berkutat di kisaran Rp6000-Rp7000 per kilogramnya.

CEO Kirana Megatara Group Regional Kalimantan Barat Andy Budi Hartawan mengatakan agar kondisi ini tidak membuat petani terus terpuruk,pihaknya mendorong budidaya karet yang dianjurkan. “Dari cara panen sampai pasca panen harus sesuai pedoman budidaya karet yang benar,” katanya di Pontianak, Minggu (14/1/2018).

Andy mencontohkan Sentra Karet Barese di Desa Labian, Kecamatan Batang Lupar, Kapuas Hulu yang sudah menerapkan sistem pengawasan oleh petani karet itu sendiri.Upaya tersebut dinilai sangat baik dan patut dicontoh serta disebarluaskan kepada petani, kelompok tani, dan gabungan kelompok tani lainnya di Kalbar.

Sementara Social Economy Officer WWF-Indonesia Program Kalimantan Barat Faiza Libby Shabira Lubis mengatakan sistem pengawasan kualitas karet oleh petani atau biasa disebut Internal Control System (ICS) sangat penting dan efektif untuk menjaga kualitas karet dari “akarnya”.

Libby menyebut dalam proses pendampingan, petani sebenarnya cukup menguasai proses sejak pemilihan bibit hingga produksi getah karet. Hanya saja belum terbiasa dengan administrasi produksi dan lebih mengutamakan kuantitas yang dihasilkan.

Semangat petani dalam menghasilkan Bokar bersih dan kering dengan ICS ini dinilai berhasil. Selain dapat menggaet kerjasama dengan Kirana Megatara Group, kualitas Bokar yang dihasilkan petani Sentra Karet Barese dinyatakan sudah sesuai dengan SNI 06-2047-2002 dari Unit Pengawasan dan Sertifikasi Mutu Barang, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kalimantan Barat.

Usaha petani Sentra Karet Barese ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan kualitas Bokar agar perekonomianpetani meningkat. ICS yang telah dijalani oleh petani Sentra Karet Barese juga merupakan upaya memperbaiki kawasan-kawasan yang kritis dan menjaga keseimbangan ekosistem melalui penerapan agroforestri di di Kapuas Hulu sebagai Kabupaten Konservasi.

Forest Coordinator Hulu Kapuas Landscape WWF-Indonesia Hendri Ziasmono mengatakan agroforestri karet merupakan upaya pemanfaatan lahan yang produktif serta penyerapan karbon. “Kita berharap upaya ini dapat mereduksi konflik manusia dan satwa serta mengurangi tekanan eksploitatif lainnya di kawasan hutan,” katanya.

Apalagi, jelas Hendri, Koridor Taman Nasional Betung Kerihun-Danau Sentarum di Kapuas Hulu adalah salah satu habitat utama orangutan Kalimantan(Pongo pygmaeus pygmaeus).Diharapkan pemerintah daerah, perusahaan karet, maupun organisasi-organisasi masyarakat sipil, berkomitmen kuat dan saling bersinergi agar pengembangan Bokar berkualitas ini dapat terus dilakukan.(Rachmat Effendi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *