Harga Minyak Dunia Melonjak 6 Persen, Dipicu Blokade AS terhadap Iran

CREATOR: gd-jpeg v1.0 (using IJG JPEG v80), quality = 80

HOUSTON – Lonjakan harga minyak dunia hingga di atas 6 persen pada perdagangan Rabu waktu setempat dipicu eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait berlanjutnya blokade angkatan laut Amerika Serikat (AS) terhadap Iran yang berdampak langsung pada terganggunya pasokan energi global.

Kenaikan harga tersebut terjadi ketika Selat Hormuz—jalur vital distribusi minyak dunia—masih tertutup akibat kebuntuan antara AS dan Iran. Kondisi ini membuat pelaku pasar bereaksi cepat terhadap potensi gangguan suplai yang berkepanjangan, di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Mengacu pada data pasar, harga minyak Brent berjangka untuk kontrak Juni melonjak 6,2 persen menjadi 118,11 dolar AS per barel, sementara kontrak Juli yang lebih aktif naik 5,8 persen ke level 110,39 dolar AS per barel. Adapun minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga mengalami kenaikan signifikan sebesar 6,8 persen menjadi 106,74 dolar AS per barel.

Selain faktor konflik, pasar turut mencermati dinamika kebijakan energi global, termasuk langkah Uni Emirat Arab yang keluar dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC), yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas produksi dan distribusi minyak dunia.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump disebut telah menginstruksikan jajarannya untuk mempersiapkan blokade laut jangka panjang terhadap Iran. Kebijakan ini dipandang sebagai alternatif dengan risiko lebih rendah dibandingkan serangan militer terbuka atau jalur diplomasi yang belum menunjukkan hasil konkret.

Laporan media menyebutkan bahwa proposal perdamaian yang diajukan Iran tidak mendapat respons positif dari pemerintah AS. Bahkan, AS tetap bersikukuh agar Iran menghentikan pengayaan uranium dalam jangka panjang sebagai syarat utama kesepakatan.

“Iran tidak becus. Mereka tidak tahu cara menandatangani kesepakatan non-nuklir. Mereka sebaiknya segera pintar!” tulis Trump di media sosial.

Sementara itu, ketegangan geopolitik juga diperparah dengan laporan kesiapan militer AS untuk melakukan serangan terbatas guna menekan Iran, sebagaimana diberitakan Kontan, Kamis (30/04/2026).

Di tengah gejolak tersebut, kebijakan moneter turut menjadi perhatian. Bank Sentral Amerika Serikat atau The Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya. Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk menilai dampak lonjakan harga minyak terhadap inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Data terbaru menunjukkan bahwa kenaikan harga energi mulai mendorong inflasi utama, meskipun inflasi inti relatif lebih terkendali. Menariknya, keputusan The Fed kali ini diwarnai empat suara berbeda dari pembuat kebijakan, jumlah tertinggi sejak 1992, yang mencerminkan perbedaan pandangan terkait arah kebijakan ke depan.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar energi global saat ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran, tetapi juga sangat sensitif terhadap dinamika geopolitik dan kebijakan ekonomi makro. Jika ketegangan tidak segera mereda, harga minyak berpotensi tetap tinggi dan menekan stabilitas ekonomi global dalam jangka menengah. []

Penulis: Husen Miftahudin | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *