Harga Minyak Dunia Turun, Pasar Tunggu Sanksi Baru AS ke Iran
(FILES) In this file photo taken on February 17, 2022 This photo taken on February 17, 2022 shows a working oil pumpjack in Signal Hill, California. - Oil prices tumbled more than five percent April 6, 2022 on worries about a demand hit as central banks shift monetary policies and wealthy governments move ahead with emergency crude stockpile releases. (Photo by Frederic J. BROWN / AFP)
JAKARTA – Harga minyak mentah dunia kembali tertekan pada awal perdagangan Asia, Senin (24/08/2026), setelah investor melakukan aksi ambil untung menyusul reli harga lebih dari 5 persen dalam dua pekan terakhir. Pergerakan pasar selanjutnya akan sangat dipengaruhi pengumuman Amerika Serikat (AS) mengenai rencana sanksi baru terhadap Iran yang berpotensi memengaruhi pasokan minyak dari kawasan Timur Tengah.
Mengutip data perdagangan yang dilansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun 1,22 dolar AS atau 1,29 persen menjadi 93,17 dolar AS per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) turun 1,20 dolar AS atau 1,38 persen menjadi 85,86 dolar AS per barel pada awal perdagangan tersebut.
Penurunan itu terjadi setelah Brent dan WTI membukukan kenaikan mingguan kedua secara beruntun. Kedua acuan harga minyak tersebut sebelumnya menguat lebih dari 5 persen sehingga mendorong sebagian investor merealisasikan keuntungan.
Kondisi tersebut membuat pasar minyak berada dalam posisi menunggu. Di satu sisi, aksi ambil untung menekan harga. Di sisi lain, ketegangan antara AS dan Iran masih menjadi faktor yang berpotensi membatasi pasokan minyak sehingga dapat kembali mendorong harga naik.
Sebagaimana diberitakan Kompas, Senin (24/08/2026), ketidakpastian tersebut berkaitan dengan kebuntuan pembicaraan damai AS-Iran yang sebelumnya meningkatkan kekhawatiran terhadap kelancaran distribusi minyak dari Timur Tengah. Situasi itu juga berdampak pada pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang sebelumnya menjadi lintasan sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent dijadwalkan menggelar konferensi pers pada Senin pukul 14.00 waktu setempat atau 18.00 Greenwich Mean Time (GMT). Bessent sebelumnya mengancam akan menerapkan “sanksi terberat dalam sejarah” terhadap Iran.
Presiden AS Donald Trump juga mengancam menjatuhkan sanksi kepada negara-negara yang melakukan perdagangan dengan Iran. Kebijakan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena dapat memberikan tekanan tambahan terhadap aktivitas perdagangan minyak Iran.
Analis komoditas Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, mengatakan dampak kebijakan tersebut terhadap Iran masih sulit dipastikan. “Masih belum jelas apakah kebijakan AS untuk mengisolasi Iran secara ekonomi akan efektif,” kata Dhar dalam sebuah catatan.
“Namun, jika langkah-langkah AS berhasil sesuai tujuan, kemampuan Iran untuk merespons dengan meningkatkan kekerasan menjadi risiko yang semakin besar untuk diperhitungkan oleh pasar energi,” lanjutnya.
Di Iran, rencana sanksi baru AS mendapat kecaman. Namun, Presiden Iran Masoud Pezeshkian tetap menyerukan penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Perbedaan pendekatan di internal kepemimpinan Iran juga menjadi perhatian pasar dalam memperkirakan arah konflik berikutnya.
Analis pasar IG Markets Tony Sycamore menilai terdapat perbedaan sikap di dalam kepemimpinan Iran terkait respons terhadap tekanan AS. “Anggota kepemimpinan Iran yang lebih pragmatis kemungkinan lebih memilih de-eskalasi, tetapi kelompok garis keras kemungkinan lebih memilih untuk bertempur hingga akhir,” ujar Sycamore.
“Saya pikir pada akhir pekan ini kita akan memiliki gambaran yang lebih jelas mengenai pihak mana dalam kepemimpinan Iran yang lebih unggul,” lanjutnya.
Tekanan terhadap pasokan minyak Iran juga mulai terlihat di pasar China. Sejumlah sumber perdagangan menyebut penawaran minyak mentah Iran kepada pembeli di China menurun, sedangkan harganya meningkat setelah blokade AS memangkas pengiriman dari Teheran.
Di tengah tekanan tersebut, Iran masih memberikan izin kepada sejumlah kapal tanker minyak Irak untuk melewati Selat Hormuz setelah Baghdad berulang kali mengajukan permintaan. Informasi itu dilaporkan kantor berita pemerintah Iran, Islamic Republic News Agency (IRNA), pada Sabtu (22/08/2026).
Dengan demikian, arah harga minyak dunia dalam beberapa hari ke depan akan sangat bergantung pada pelaksanaan sanksi AS, respons Iran, serta perkembangan lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz. Pelaku pasar kini mencermati apakah tekanan geopolitik tersebut kembali mengalahkan aksi ambil untung yang sementara menekan harga minyak pada awal pekan. []
Redaksi01
