IHSG Dibuka Melemah, Sektor Energi Jadi Beban Terbesar
JAKARTA – Tekanan jual langsung mewarnai pembukaan perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu, 26 Agustus 2026. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun 7,68 poin atau 0,14 persen ke level 6.485,59 pada pukul 09.00 Waktu Indonesia Barat (WIB), dengan mayoritas saham bergerak di zona merah.
Pelemahan IHSG terutama dipengaruhi tekanan pada sejumlah sektor utama. Dari 11 indeks sektoral yang tercatat, hanya sektor teknologi yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,11 persen.
Sementara itu, 10 sektor lainnya mengalami pelemahan. Sektor energi menjadi pemberat terbesar setelah turun 1,42 persen. Berikutnya, sektor transportasi dan logistik melemah 1,02 persen, sedangkan sektor infrastruktur terkoreksi 0,86 persen.
Pergerakan saham pada awal sesi juga menunjukkan dominasi saham yang terkoreksi. Sebanyak 231 saham tercatat turun, berbanding 180 saham yang menguat. Adapun 264 saham lainnya belum mengalami perubahan harga dari posisi sebelumnya.
Aktivitas transaksi pasar saham tetap berlangsung cukup ramai pada awal perdagangan. Volume transaksi mencapai sekitar 1,59 miliar saham dengan nilai transaksi Rp870,11 miliar.
Di jajaran saham yang masuk indeks Liquid 45 (LQ45), pergerakan harga berlangsung beragam. PT Surya Citra Media Tbk (SCMA) menjadi salah satu saham dengan penguatan terbesar, yakni 1,90 persen.
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) juga menguat 1,19 persen. Sementara PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) tercatat dalam daftar saham dengan pergerakan positif berdasarkan data awal perdagangan yang dirilis sumber.
Di sisi berlawanan, tekanan paling besar di kelompok LQ45 datang dari PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang merosot 3,93 persen. Penurunan MEDC menjadi yang terdalam di antara saham yang tercatat sebagai top losers pada awal perdagangan.
PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyusul dengan pelemahan 3,64 persen. Sementara PT Indosat Tbk (ISAT) terkoreksi 2,06 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa tekanan terhadap IHSG pada awal perdagangan tidak berlangsung merata di seluruh sektor maupun saham. Ketika sektor teknologi masih mampu mencatat kenaikan, sektor energi justru menjadi sumber tekanan terbesar terhadap pergerakan indeks.
Pelemahan sejumlah saham berkapitalisasi besar dalam indeks LQ45 turut menjadi perhatian karena pergerakannya dapat memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan. Investor kemudian akan mencermati perkembangan transaksi sepanjang sesi untuk melihat apakah tekanan jual berlanjut atau mulai mereda.
Data pembukaan perdagangan tersebut sebagaimana diberitakan Kontan, Rabu, (26/08/2026), menjadi gambaran awal arah pasar saham domestik pada perdagangan hari itu. Perubahan posisi saham dan indeks sektoral masih dapat terjadi seiring berlangsungnya transaksi hingga penutupan perdagangan. []
Redaksi01
