KAI Genjot Pendapatan Non-Tiket Lewat Optimalisasi Aset

SUBANG – PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) mulai mengarahkan strategi bisnis perusahaan pada optimalisasi aset di luar layanan angkutan penumpang sebagai upaya meningkatkan kontribusi pendapatan non-tiket. Langkah tersebut dilakukan karena selama ini sekitar 96 persen pendapatan KAI masih bergantung pada penjualan tiket kereta api, sementara kontribusi dari sektor non-tiket masih relatif kecil.

Direktur Utama (Dirut) PT Kereta Api Indonesia (Persero) (KAI) Bobby Rasyidin mengatakan perusahaan tengah menyiapkan sejumlah strategi agar aset yang selama ini belum dimanfaatkan secara maksimal dapat memberikan nilai ekonomi yang lebih besar. Upaya tersebut juga ditujukan untuk meningkatkan tingkat pengembalian aset perusahaan sesuai target pemerintah.

“Selama ini KAI itu 96 persen pendapatannya dari operasinya kereta, hanya 4 persen yang kita sebut itu dengan ‘non-fair box‘ (pendapatan diluar tiket),” kata Bobby Rasyidin saat berdiskusi dengan awak media dalam perjalanan menggunakan Kereta Wisata dari Yogyakarta menuju Jakarta, Rabu (08/07/2026), sebagaimana diberitakan Antara, Rabu (08/07/2026).

Menurut Bobby, sejumlah operator perkeretaapian di berbagai negara telah berhasil mengembangkan sumber pendapatan di luar penjualan tiket. Model bisnis tersebut diterapkan antara lain di Jepang maupun operator Mass Rapid Transit (MRT) Hong Kong dengan mengoptimalkan pemanfaatan aset dan bisnis pendukung sehingga pendapatan non-fair box menjadi salah satu penopang utama perusahaan.

Ia menilai KAI memiliki peluang untuk menerapkan pola serupa melalui pengelolaan aset yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Optimalisasi tersebut diharapkan mampu memberikan nilai tambah sekaligus memperkuat kinerja keuangan perusahaan.

Apalagi, lanjut Bobby, Presiden Prabowo Subianto meminta agar tingkat return on asset perusahaan dapat mencapai 6 persen. Sementara itu, capaian KAI saat ini masih berada pada kisaran 2 hingga 2,1 persen.

“Pada saat ini baru 2,1 persen. Bagaimana aset-aset yang ‘underleverage‘ ini kita mulai berdayakan. Kalau sekarang hanya ada satu bisnis model yang saya sebut ‘fair box‘,” ujarnya.

Bobby menjelaskan bahwa model bisnis fair box selama ini hanya mengandalkan pendapatan dari penjualan tiket kepada masyarakat yang menggunakan layanan kereta api untuk bepergian dari satu kota ke kota lainnya. Karena itu, KAI berupaya menghadirkan sumber pendapatan baru agar tidak hanya bergantung pada satu model bisnis.

Menurutnya, inovasi bisnis terus disiapkan agar perusahaan memiliki berbagai sumber pendapatan yang lebih beragam. Diversifikasi tersebut diharapkan mampu memperkuat ketahanan bisnis sekaligus meningkatkan kontribusi pendapatan di luar sektor angkutan penumpang.

Selain mengembangkan pemanfaatan aset, KAI juga memfokuskan strategi perusahaan pada empat pilar utama, yakni memperkuat operasional, mengoptimalkan aset perusahaan, meningkatkan jumlah pengguna layanan (ridership), serta memperkuat industrialisasi perkeretaapian sebagai bagian dari pengembangan bisnis jangka panjang. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *