LPJK Dorong Tenaga Konstruksi Tingkatkan Kompetensi Berkelanjutan

JAKARTA – Perubahan teknologi di sektor konstruksi menuntut tenaga kerja tidak berhenti belajar setelah memperoleh sertifikat kompetensi. Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Insannul Kamil menilai Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) harus menjadi bagian dari upaya menjaga kompetensi tenaga konstruksi agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan industri.

Pandangan tersebut disampaikan Insannul dalam Seminar Nasional Sains dan Keteknikan yang diselenggarakan Universitas Esa Unggul pada Rabu (12/08/2026). Dalam forum itu, ia menekankan bahwa transformasi industri konstruksi tidak cukup hanya mengandalkan kehadiran teknologi baru, tetapi juga membutuhkan kesiapan sumber daya manusia untuk memanfaatkannya secara berkelanjutan.

“Sertifikat itu bukan titik akhir. Tapi awal dari membangun sebuah kapasitas kompetensi kita menuju pembelajaran sepanjang hayat,” katanya, sebagaimana diberitakan Konstruksi Media, Rabu (12/08/2026).

Menurut Insannul, PKB merupakan bagian dari kebijakan penyelenggaraan jasa konstruksi yang mengedepankan lifelong learning atau pembelajaran sepanjang hayat. Mekanisme tersebut diperlukan untuk mempertahankan sekaligus meningkatkan kompetensi, profesionalitas, dan produktivitas tenaga kerja konstruksi.

Kebutuhan pembelajaran berkelanjutan semakin penting seiring masuknya berbagai teknologi baru ke dalam industri konstruksi. Tenaga kerja dituntut mampu menyesuaikan diri dengan perubahan agar penerapan teknologi tidak sekadar menjadi penggunaan perangkat atau sistem baru, tetapi benar-benar meningkatkan kualitas proses kerja.

Insannul juga menyoroti tantangan transformasi digital dari sisi kemampuan industri dalam mengadopsi inovasi. Menurut dia, persoalan utama bukan semata-mata ketersediaan teknologi, melainkan kemampuan pelaku industri mengintegrasikan teknologi ke dalam proses kerja dan mengembangkan penerapannya secara konsisten.

“Tantangan utama transformasi industri konstruksi bukan hanya semata-mata keterbatasan teknologi. Tetapi keterbatasan kapasitas untuk mengadopsi, mengintegrasikan dan mengembangkan dan meng-scale-kan inovasi secara berkelanjutan,” ujar Insannul.

Salah satu perkembangan teknologi yang menjadi perhatian ialah kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), khususnya teknologi berbasis Large Language Model (LLM). Menurut Insannul, teknologi tersebut tidak selalu harus digunakan dalam bentuk yang sama untuk setiap kebutuhan industri.

Ia mencontohkan kemungkinan pengembangan Small Language Model (SLM) yang dirancang lebih spesifik berdasarkan persoalan yang hendak diselesaikan. Pendekatan tersebut memungkinkan teknologi disesuaikan dengan kebutuhan tertentu sehingga penerapannya dapat lebih relevan bagi industri konstruksi.

Dengan demikian, transformasi industri konstruksi membutuhkan dua sisi yang berjalan beriringan, yakni pengembangan teknologi dan peningkatan kapasitas manusia yang menggunakannya. Tanpa kesiapan sumber daya manusia, inovasi berpotensi tidak dimanfaatkan secara optimal meskipun teknologi yang tersedia semakin maju.

Insannul menilai keberlanjutan pengembangan kompetensi juga diperlukan agar tenaga konstruksi mampu mengikuti perubahan kebutuhan industri. PKB menjadi sarana untuk memastikan kemampuan profesional terus diperbarui seiring perkembangan teknologi, metode kerja, dan tuntutan dunia konstruksi.

Pendekatan tersebut menempatkan sertifikat kompetensi sebagai bagian dari perjalanan profesional, bukan tujuan akhir. Setelah memperoleh pengakuan kompetensi, tenaga kerja tetap perlu memperbarui pengetahuan dan keterampilan melalui proses pembelajaran yang berlangsung secara berkesinambungan.

Penguatan budaya belajar sepanjang hayat diharapkan dapat membantu industri konstruksi menghadapi perubahan teknologi sekaligus meningkatkan kemampuan tenaga kerja dalam mengadopsi inovasi. Dengan sumber daya manusia yang terus berkembang, transformasi digital di sektor konstruksi diharapkan dapat berjalan lebih efektif dan memberikan dampak nyata terhadap produktivitas industri. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *