Minyak Brent Tembus 101 Dollar AS di Tengah Ketegangan Iran
JAKARTA – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali mengguncang pasar energi global setelah harga minyak mentah dunia melonjak tajam menyusul bentrokan udara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kenaikan harga sempat mencapai lebih dari 3 persen sebelum akhirnya mereda akibat harapan pasar terhadap peluang jeda konflik dan pembukaan kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Harga minyak mentah Brent berjangka ditutup menguat 1,23 persen ke level 101,29 dollar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) asal AS naik 0,64 persen menjadi 95,42 dollar AS per barel pada perdagangan Jumat (08/05/2026).
Lonjakan harga minyak dipicu meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap gangguan distribusi energi global setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan udara di kawasan Teluk. Konflik tersebut juga berdampak pada aktivitas pelayaran internasional di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak dunia.
Meski demikian, pasar mulai menunjukkan optimisme setelah muncul sinyal kemungkinan gencatan senjata dan pembicaraan lanjutan antara kedua negara. Kondisi itu membuat penguatan harga minyak berangsur mereda menjelang penutupan perdagangan.
“Kita berada di ambang terobosan dalam negosiasi atau kita berada di ambang pembaruan pertempuran. Kita sudah sering berada di situasi ini. Ada perasaan di pasar bahwa akan ada kesepakatan dan kita akan memasuki fase berikutnya, yaitu 30 hari untuk merundingkan kesepakatan (antara Iran dan AS),” kata Mitra Again Capital John Kilduff.
Konflik terbaru disebut bermula setelah serangan udara gabungan AS dan Israel ke sejumlah wilayah Iran pada 28 Februari 2026. Ketegangan terus berlanjut ketika pasukan AS dan Iran bentrok di kawasan Teluk serta Uni Emirat Arab (UEA) kembali menjadi sasaran serangan.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan gencatan senjata masih berlaku dan berupaya meredakan eskalasi konflik. Namun, Trump kembali menegaskan ultimatum agar Iran menghentikan ambisi nuklirnya.
“Seberapa cepat pasokan dapat dikembalikan dari negara-negara Teluk, bagaimana keadaan persediaan saat kita mendekati puncak musim bensin, dan seperti apa sanksi setelah penyelesaian konflik, semuanya layak untuk dipikirkan. Tetapi tidak satu pun yang dapat ditangani sampai ada solusi jangka panjang untuk permusuhan,” ujar Analis PVM Oil Associates John Evans.
Di tengah situasi tersebut, Komisi Perdagangan Berjangka Komoditas AS juga dikabarkan tengah menyelidiki transaksi minyak senilai 7 miliar dollar AS yang terjadi sesaat sebelum pengumuman penting terkait konflik Iran oleh Trump. Investigasi itu berfokus pada dugaan transaksi posisi jual dalam jumlah besar di Intercontinental Exchange (ICE) dan Chicago Mercantile Exchange (CME).
Pergerakan harga minyak global diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik geopolitik di Timur Tengah, terutama terkait keamanan jalur distribusi energi internasional dan hasil negosiasi antara AS dan Iran. Pelaku pasar pun diminta mencermati dinamika politik global yang berpotensi memicu volatilitas harga energi dalam beberapa waktu ke depan, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat, (08/05/2026). []
Penulis: Redaksi | Penyunting: Redaksi01
