Okupansi Hotel Cirebon Terbelah, Bintang Naik Nonbintang Turun

0
grage-hotel-cirebon

CIREBON – Kinerja usaha perhotelan di Kota Cirebon, Jawa Barat (Jabar), menunjukkan kesenjangan antara kelompok hotel berbintang dan nonbintang pada September 2026. Saat tingkat penghunian kamar (TPK) hotel berbintang menembus 50,05 persen, hotel nonbintang justru mencatat tingkat hunian hanya 19,36 persen.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Cirebon memperlihatkan, tingkat hunian hotel berbintang meningkat 4,98 poin dibandingkan September 2025. Kenaikan juga tercatat secara bulanan, yakni 1,21 poin dibandingkan Agustus 2026.

Kepala BPS Kota Cirebon Samiran mengatakan, capaian tersebut menempatkan hotel berbintang di atas rata-rata tingkat hunian gabungan hotel berbintang dan nonbintang yang mencapai 41,12 persen.

“Capaian tersebut membuat tingkat hunian hotel berbintang berada di atas rata-rata gabungan hotel bintang dan nonbintang yang sebesar 41,12%,” kata Samiran, Rabu (04/11/2026).

Sebaliknya, hotel nonbintang menghadapi tekanan tingkat hunian. Pada September 2026, TPK kelompok hotel tersebut tercatat 19,36 persen atau turun 3,86 poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Jika dibandingkan dengan Agustus 2026, angkanya juga merosot 2,17 poin.

Perbedaan tersebut menjadi penanda bahwa peningkatan aktivitas usaha akomodasi di Cirebon belum dirasakan secara merata. Pertumbuhan tingkat hunian hotel berbintang berlangsung bersamaan dengan pelemahan kinerja hotel nonbintang.

Secara keseluruhan, TPK gabungan hotel berbintang dan nonbintang mencapai 41,12 persen pada September 2026. Angka itu meningkat 2,65 poin dibandingkan September 2025 dan bertambah 0,28 poin dari bulan sebelumnya.

Sebagaimana diberitakan Bisnis, Rabu (04/11/2026), Samiran menjelaskan bahwa TPK digunakan untuk mengukur persentase malam kamar yang terpakai dibandingkan dengan jumlah malam kamar yang tersedia dalam periode tertentu. Indikator tersebut menjadi salah satu ukuran untuk melihat perkembangan aktivitas usaha akomodasi di suatu daerah.

“Kenaikan TPK gabungan sebesar 2,65 poin secara tahunan terutama berlangsung bersamaan dengan peningkatan tingkat hunian hotel berbintang. Sementara kelompok hotel nonbintang justru mengalami kontraksi pada periode yang sama,” ujarnya.

Perbedaan capaian itu memperlihatkan adanya dinamika permintaan jasa penginapan yang tidak seragam antarkelompok hotel. Perkembangan berikutnya akan menjadi perhatian untuk melihat apakah peningkatan hunian hotel berbintang dapat diikuti perbaikan kinerja hotel nonbintang pada periode selanjutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *