PGN Bidik 40 UMKM, Pelaku Disabilitas Dapat Pendampingan Khusus
TANGERANG – PT Perusahaan Gas Negara (PGN) memperluas pendekatan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan menitikberatkan pada pendampingan usaha bagi kelompok rentan, termasuk pelaku usaha penyandang disabilitas dan UMKM dengan tingkat risiko usaha tinggi. Langkah ini dilakukan untuk memperkuat daya saing bisnis sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Program tersebut dijalankan melalui skema Program Pendanaan Usaha Mikro dan Kecil (PUMK) hasil kolaborasi PGN dengan Bank Rakyat Indonesia (BRI). Fokus utama program tidak hanya pada akses pembiayaan, tetapi juga pelatihan, pengukuran dampak usaha, hingga pendampingan berkelanjutan.
Melalui program bertajuk “Pendampingan Peningkatan Program PUMK bagi UMKM Penyaluran BRI dan Disabilitas melalui Pengukuran Dampak dan Optimalisasi Pendapatan”, PGN menggelar pelatihan dalam dua batch di wilayah Tangerang dan Serang.
Untuk tahap pertama, pelatihan berlangsung pada 19–21 Mei 2026 di Karawaci, Kota Tangerang (Tangerang), Banten. Sebanyak 24 peserta mengikuti kegiatan tersebut, terdiri atas 16 nasabah PUMK dan delapan pelaku usaha penyandang disabilitas.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan perusahaan menilai pengembangan UMKM memerlukan pendekatan yang lebih luas dibanding sekadar pembiayaan.
“Karena itu, kami pada program ini ingin memastikan pelaku UMKM, termasuk penyandang disabilitas dan usaha dengan tantangan risiko yang lebih tinggi, memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang, meningkatkan kapasitas bisnis, dan memperkuat daya saing usahanya,” ujar Fajriyah di Tangerang, sebagaimana dilansir Antara, Sabtu (23/05/2026).
Program ini dirancang untuk memperkuat kemampuan usaha peserta melalui pengukuran dampak program dan strategi peningkatan pendapatan. Secara keseluruhan, sebanyak 40 UMKM ditargetkan menjadi penerima manfaat.
PGN juga menyiapkan pendampingan lanjutan selama enam bulan setelah pelatihan tatap muka selesai. Pendampingan dilakukan secara individual atau one by one agar peserta dapat memperoleh solusi yang lebih spesifik sesuai tantangan usaha masing-masing.
Fokus pendampingan meliputi strategi pengembangan bisnis, penguatan kapasitas usaha, optimalisasi pemasaran, serta pengelolaan keuangan. Dengan pendekatan itu, peserta diharapkan dapat langsung menerapkan materi pelatihan ke dalam aktivitas bisnis mereka.
Salah satu peserta program, Wiwin, mengaku pembinaan tersebut memberi manfaat nyata dalam pengembangan usaha dan memperluas jejaring bisnis.
“Selain mendapatkan banyak pengetahuan praktis dan pengalaman baru, kami juga bisa memperluas relasi dan jejaring dengan sesama pelaku UMKM. Pendampingan yang diberikan sangat membantu karena kami bisa berdiskusi langsung mengenai tantangan usaha yang dihadapi,” ujar Wiwin.
Melalui skema pembinaan berkelanjutan ini, PGN menargetkan UMKM binaan, termasuk kelompok usaha disabilitas dan pelaku usaha dengan risiko tinggi, mampu tumbuh lebih kuat, memperluas peluang pasar, serta menciptakan model pemberdayaan ekonomi yang lebih inklusif. []
Penulis: Vicky Rachman | Penyunting: Redaksi01
