Wall Street Menguat Berkat Nvidia, Investor Bersiap Hadapi Risiko Makro

NEW YORK – Penguatan saham teknologi yang mendorong indeks Nasdaq Composite dan Standard & Poor’s 500 (S&P 500) ditutup menguat pada Kamis (27/08/2026) membuka kembali optimisme investor terhadap prospek kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Namun, setelah laporan kinerja Nvidia menjadi katalis utama pasar, perhatian pelaku pasar kini beralih pada arah inflasi, suku bunga, dan kebijakan Federal Reserve (The Fed).

Pada penutupan perdagangan, indeks Nasdaq Composite memimpin penguatan dengan kenaikan 411,16 poin atau 1,57 persen menjadi 26.541,35. Sementara itu, indeks S&P 500 naik 55,29 poin atau 0,72 persen ke level 7.730,99, sedangkan Dow Jones Industrial Average (DJIA) bertambah 105,56 poin atau 0,20 persen menjadi 53.569,44, sebagaimana dilansir Kontan, Jumat, (28/08/2026).

Pergerakan positif Wall Street terutama didorong kenaikan saham Nvidia sebesar 8,7 persen setelah perusahaan tersebut menyampaikan proyeksi pendapatan yang kuat. Proyeksi itu memperkuat keyakinan investor bahwa lonjakan permintaan terhadap teknologi AI masih berlangsung, meskipun kebutuhan investasi untuk menopang pertumbuhan industri tersebut semakin besar dan membutuhkan modal yang padat.

“Hasil kinerja Nvidia menunjukkan bahwa lonjakan permintaan AI tidak sedang kehabisan peminat… meskipun mewujudkan pertumbuhan tersebut menjadi semakin mahal dan padat modal,” ujar Lale Akoner, ahli strategi pasar global di eToro.

Morgan Stanley juga menilai proyeksi pertumbuhan Nvidia masih berada di atas perkiraan pasar. Dalam catatannya pada Kamis, lembaga keuangan tersebut menyebut proyeksi pertumbuhan pendapatan Nvidia sebesar 70 persen untuk tahun depan jauh melampaui estimasi Morgan Stanley sebesar 52 persen dan proyeksi konsensus pasar yang mendekati 40 persen.

“Kami memperkirakan Nvidia akan terus mendobrak hambatan menuju pertumbuhan yang lebih tinggi,” kata analis Joseph Moore dalam catatan tersebut.

Optimisme terhadap industri AI turut mengangkat saham-saham terkait semikonduktor. Indeks semikonduktor menguat 2,3 persen, sementara sektor Teknologi Informasi dalam S&P 500 melonjak 3,4 persen dan menjadi sektor dengan kinerja terbaik di antara 11 sektor penyusun indeks tersebut. Nvidia sebelumnya juga mengingatkan bahwa kekurangan komponen memori berpotensi menghambat laju pertumbuhan industri.

Kenaikan pasar tidak hanya terjadi pada perusahaan pembuat cip. Saham Salesforce melonjak 22,6 persen setelah perusahaan menaikkan proyeksi pendapatan dan laba tahunan serta meluncurkan plug-in baru yang terintegrasi dengan model AI Claude buatan Anthropic. Saham CrowdStrike juga menguat 20,5 persen setelah perusahaan perangkat lunak keamanan siber tersebut meningkatkan perkiraan pendapatan tahunan dan membukukan laba kuartal kedua di atas estimasi pasar.

Kinerja Salesforce dan CrowdStrike membantu meredakan kekhawatiran investor bahwa perkembangan perangkat AI canggih akan mengganggu bisnis perangkat lunak tradisional. Sentimen itu turut mendorong kenaikan saham perusahaan perangkat lunak lain, termasuk ServiceNow dan Palo Alto Networks, sekaligus mempersempit kesenjangan kinerja antara sektor perangkat lunak dan semikonduktor.

Namun, penguatan sektor teknologi belum sepenuhnya mengangkat seluruh pasar. Sejumlah sektor lain masih menghadapi tekanan akibat tingginya suku bunga, ketegangan geopolitik, dan dinamika perdagangan global.

“Meskipun laporan laba Nvidia yang melampaui ekspektasi dan panduan kinerja yang kuat kembali memicu optimisme pasar, jelas terlihat bahwa tidak semua sektor pasar turut menikmatinya,” ujar Charlie Ripley, ahli strategi investasi senior di Allianz Investment Management.

“Hambatan pasar terus menjadi faktor penekan; suku bunga yang lebih tinggi, ketegangan geopolitik, dan dinamika perdagangan global, antara lain, turut berperan dalam pelemahan yang terlihat di sektor-sektor lain.”

Di tengah penguatan pasar saham, harga minyak mentah Brent juga melonjak lebih dari 2 dolar AS per barel. Kenaikan itu terjadi setelah laporan The Wall Street Journal menyebut Presiden AS Donald Trump tidak berminat kembali pada ketentuan nota kesepahaman yang dicapai dengan Iran pada Juni.

Di sisi lain, saham Moderna turun 4,6 persen setelah perusahaan mengumumkan penjualan obligasi konversi senilai 2 miliar dolar AS. Saham HP juga melemah hampir 3 persen setelah volume pengiriman dan margin unit komputer pribadi atau personal computer (PC) mengalami penurunan pada kuartal ketiga.

Setelah sentimen positif dari laporan Nvidia, pasar kini menaruh perhatian pada pidato pertama Ketua The Fed Kevin Warsh dalam pertemuan Jackson Hole pada Jumat (28/08/2026). Investor menunggu petunjuk mengenai sikap bank sentral AS terhadap perkembangan inflasi terbaru dan langkah Departemen Keuangan AS dalam meredam kenaikan imbal hasil obligasi.

“Tema yang kerap diusung Warsh adalah fokusnya pada sisi penawaran ekonomi, dan kami memperkirakan hal itu akan tetap menjadi fokus utamanya,” ujar Christopher Hodge, Kepala Ekonom AS di Natixis.

“Saya sangat meragukan Warsh akan memberikan pernyataan yang terlalu tegas mengenai prospek ke depan, namun tidak mengherankan jika ia menunjukkan skeptisisme terhadap asumsi kebijakan sebelumnya dan secara umum mengambil pendekatan yang tidak terpaku pada doktrin tertentu.”

Prospek kebijakan moneter kembali menjadi perhatian setelah data Pengeluaran Konsumsi Pribadi atau Personal Consumption Expenditures (PCE) yang dirilis Rabu mencatatkan angka lebih tinggi dari perkiraan. Kondisi tersebut mengaburkan arah kebijakan suku bunga dan mengurangi optimisme yang sebelumnya muncul setelah laporan inflasi konsumen menunjukkan perkembangan moderat pada awal bulan.

Dua pejabat The Fed pada Kamis juga kembali menyampaikan kekhawatiran mengenai prospek inflasi dan menegaskan sikap untuk menaikkan suku bunga guna mengatasi tekanan harga. Di tengah situasi itu, data ketenagakerjaan menunjukkan jumlah warga AS yang mengajukan tunjangan pengangguran untuk pertama kalinya turun selama dua pekan berturut-turut dan mencapai level terendah dalam sebulan.

Stabilitas pasar tenaga kerja tersebut menambah kompleksitas pertimbangan investor terhadap langkah The Fed berikutnya. Dengan reli saham teknologi yang kembali menguat berkat prospek AI, arah inflasi dan kebijakan suku bunga kini menjadi faktor penting yang akan menentukan apakah optimisme Wall Street dapat berlanjut pada perdagangan berikutnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *