MotoGP Mandalika 2026 Mulai Dongkrak Pesanan Hotel di Senggigi

MATARAM – Dampak penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2026 mulai terasa di sektor perhotelan Senggigi, Kabupaten Lombok Barat (Lobar), Nusa Tenggara Barat (NTB). Sejumlah hotel di kawasan wisata tersebut telah mencatat pemesanan kamar lebih dari 50 persen untuk periode balapan yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026, dengan salah satu hotel bahkan mendekati tingkat pemesanan 70 persen.

General Manager (GM) Hotel Holiday Resort Lombok sekaligus Ketua Asosiasi Hotel Senggigi, I Ketut Murta Jaya, mengatakan tingginya pemesanan menjadi sinyal positif bagi industri perhotelan menjelang pelaksanaan ajang balap motor internasional tersebut.

Sebagaimana dilansir Suara NTB, Jumat (14/08/2026), Murta Jaya menyebut tingkat pemesanan di Holiday Resort Lombok telah mendekati 70 persen. Namun, angka tersebut belum seluruhnya dapat dikategorikan sebagai wisatawan yang datang khusus untuk menyaksikan MotoGP.

Sebagian wisatawan, kata dia, kemungkinan menjadikan momentum balapan sebagai kesempatan untuk berlibur di Lombok. Kondisi itu membuka peluang tingkat hunian hotel terus meningkat seiring semakin dekatnya jadwal penyelenggaraan.

“Sekarang masih Agustus. Masih ada waktu untuk memaksimalkan tingkat hunian. Kalau untuk persiapan MotoGP, karena ini sudah beberapa kali, kita sudah sangat terbiasa mengantisipasi kebutuhan wisatawan maupun kebutuhan operasional,” katanya.

Menurut Murta Jaya, kondisi pemesanan kamar di kawasan Senggigi secara keseluruhan juga mulai menunjukkan pergerakan, meskipun peningkatannya belum terlalu signifikan. Pelaku usaha perhotelan tidak terlalu mencemaskan pola pemesanan tersebut karena perilaku wisatawan kini semakin dipengaruhi kemudahan teknologi.

Fenomena last minute booking atau pemesanan pada waktu yang semakin dekat dengan hari keberangkatan menjadi salah satu faktor yang membuat hotel masih memiliki peluang memperoleh tambahan tamu. Wisatawan dapat membandingkan harga, fasilitas, serta lokasi akomodasi melalui berbagai platform pemesanan secara daring sebelum menentukan pilihan.

“Dengan kemajuan teknologi, mereka kadang berpikir nanti saja pesan. Mereka bisa dengan mudah melihat jenis akomodasi yang menjadi pilihan,” katanya.

Pengalaman menghadapi penyelenggaraan MotoGP pada tahun-tahun sebelumnya juga menjadi modal bagi hotel di Senggigi untuk menyiapkan kebutuhan operasional. Karena ajang tersebut bukan lagi agenda baru bagi pelaku industri pariwisata NTB, persiapan dapat dilakukan berdasarkan pola kunjungan wisatawan pada penyelenggaraan sebelumnya.

Menariknya, kenaikan permintaan kamar menjelang MotoGP 2026 sejauh ini belum diikuti lonjakan tarif yang tajam. Harga kamar masih bergerak mengikuti kondisi pasar dan tingkat permintaan yang berkembang secara bertahap.

“Saya amati hotel-hotel yang ada, harganya masih organik. Tidak ada harga yang signifikan,” ujarnya.

Situasi tersebut berbeda dengan periode awal penyelenggaraan MotoGP di Mandalika. Ketika itu, permintaan kamar tidak hanya berasal dari penonton balapan, tetapi juga rombongan pemerintah, anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) dari berbagai daerah, serta kelompok lainnya. Tingginya permintaan pada saat itu turut mendorong kenaikan harga kamar.

Kini, pasar MotoGP dinilai semakin terbentuk. Pelaku usaha akomodasi dan wisatawan telah memiliki pengalaman menghadapi agenda tersebut sehingga mekanisme harga dianggap lebih rasional dan mengikuti prinsip supply and demand atau permintaan dan penawaran.

Bagi pelaku industri pariwisata Senggigi, tantangan utama bukan sekadar meningkatkan tingkat hunian ketika balapan berlangsung. Mereka berharap kedatangan wisatawan dapat menghasilkan dampak ekonomi yang lebih panjang melalui peningkatan lama tinggal di Lombok.

“Harapannya MotoGP mendongkrak tingkat kunjungan dan okupansi. Bukan hanya stay dua atau tiga malam, tetapi lebih dari itu,” katanya.

Murta Jaya mengatakan wisatawan yang datang untuk menyaksikan MotoGP dapat memanfaatkan perjalanan tersebut sebagai momentum berlibur bersama keluarga sebelum ataupun setelah agenda balapan. Pola extend stay atau memperpanjang masa tinggal dinilai mampu memberikan manfaat yang lebih luas bagi perekonomian daerah.

Perpanjangan masa tinggal wisatawan tidak hanya berdampak pada tingkat hunian hotel. Pengeluaran wisatawan juga berpotensi mengalir ke berbagai sektor lain, seperti restoran, transportasi, destinasi wisata, pusat oleh-oleh, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Ini juga bisa dijadikan momen liburan untuk mereka sekeluarga. Jadi bisa extend sebelum atau setelah event. Di luar usaha akomodasi, UMKM juga akan bisa mendapatkan manfaat,” tandasnya. []

Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *