Harga Minyak Dunia Turun, Cadangan Strategis G7 Mulai Jadi Penentu
SINGAPURA – Harga minyak dunia kembali tertekan pada awal perdagangan Asia, Senin (05/10/2026), setelah tambahan pasokan dari Timur Tengah beriringan dengan keputusan negara-negara Group of Seven (G7) melepas cadangan strategis. Kondisi tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dalam jangka pendek, meski risiko gangguan akibat konflik di kawasan Teluk masih membayangi.
Harga minyak mentah Brent turun 35 sen atau 0,34 persen menjadi 101,90 dolar AS per barel pada pukul 08.15 Waktu Indonesia Barat (WIB). Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat (AS) melemah 62 sen atau 0,68 persen menjadi 90,49 dolar AS per barel.
Penurunan tersebut melanjutkan tekanan harga pada pekan sebelumnya. Harga Brent melemah, sedangkan WTI tercatat turun 1,6 persen setelah negara-negara G7 pada Jumat (02/10/2026) menyepakati pelepasan 100 juta barel minyak mentah dan diesel dari cadangan darurat, sebagaimana diberitakan Kompas, Senin, (05/10/2026).
Tambahan pasokan tersebut menjadi faktor penting yang diperhitungkan pelaku pasar karena terjadi ketika ekspor minyak mentah dari Timur Tengah mulai meningkat. Data pengiriman menunjukkan ekspor minyak mentah kawasan tersebut berada di atas level sebelum perang selama empat dari tujuh hari pada pekan terakhir September.
Analis Utama KCM Trade Tim Waterer menilai keputusan G7 memanfaatkan cadangan strategis telah mengurangi kekhawatiran mengenai ketersediaan minyak dalam waktu dekat. Kondisi itu juga diperkuat oleh perkiraan bahwa ekspor minyak Arab Saudi mulai mendekati tingkat sebelum perang.
“Keputusan G7 untuk menggunakan cadangan strategis mengurangi kekhawatiran pasokan dalam jangka pendek, sementara ada pandangan yang berkembang bahwa volume ekspor Arab Saudi kembali mendekati level sebelum perang,” kata Waterer.
Meski pasokan bertambah, pasar minyak belum sepenuhnya terbebas dari risiko. Kerusakan lebih lanjut terhadap infrastruktur energi di kawasan Teluk masih menjadi perhatian karena dapat kembali mengganggu arus pasokan dan memicu tekanan harga.
Kelompok Houthi pada Senin mengklaim telah meluncurkan rudal balistik dan drone ke sejumlah fasilitas Saudi Aramco di Riyadh dan wilayah Khurais, Arab Saudi. Kelompok tersebut menyebut serangan itu sebagai respons atas 50 serangan udara dan rudal yang dilakukan koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman dalam 12 jam sebelumnya.
Hingga laporan tersebut diterbitkan, pemerintah Arab Saudi belum memberikan konfirmasi mengenai klaim serangan tersebut.
Sementara itu, pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi dan diakui secara internasional pada Minggu (04/10/2026) menyatakan akan melancarkan operasi militer besar untuk merebut kembali seluruh wilayah Yaman yang dikuasai kelompok Houthi yang didukung Iran.
Di sisi lain, Saudi Aramco secara tak terduga memangkas harga minyak mentah untuk pengiriman ke Asia pada November ke level terendah dalam enam tahun. Kebijakan tersebut turut menjadi perhatian pasar di tengah perubahan dinamika pasokan dan permintaan minyak global.
Ketidakpastian juga muncul dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutunya (OPEC+). Organisasi tersebut menunda pembahasan mengenai penentuan kuota produksi minyak untuk 2027 sehingga arah produksi minyak pada masa mendatang masih belum sepenuhnya jelas.
Dengan demikian, pasar minyak kini menghadapi dua kekuatan yang berlawanan. Tambahan ekspor Timur Tengah dan pelepasan cadangan strategis memberikan tekanan terhadap harga, sementara potensi gangguan infrastruktur energi akibat konflik di kawasan Teluk tetap menjadi risiko yang dapat sewaktu-waktu mengubah sentimen pasar. []
Redaksi01
