ASDP Siapkan Rute RoRo Batam-Johor, Operasi Ditargetkan 2027
BATAM – PT ASDP Indonesia Ferry (Persero) mulai mematangkan rencana pembukaan layanan kapal Roll-on/Roll-off (RoRo) yang menghubungkan Batam dengan Johor, Malaysia. Layanan lintas negara tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2027 dan diproyeksikan membuka jalur baru bagi pergerakan kendaraan, barang, serta penumpang antara kedua kawasan.
Rute sepanjang sekitar 27 mil laut itu akan menghubungkan Pelabuhan Bintang 99 Persada di Batam dengan Terminal Feri Tanjung Belungkor, Johor. ASDP menilai keberadaan koridor tersebut memiliki peluang untuk memperkuat konektivitas sekaligus meningkatkan efisiensi rantai logistik lintas batas.
Direktur Operasi dan Transformasi ASDP Rio Lasse mengatakan target pengoperasian masih bergantung pada kesiapan berbagai aspek, terutama regulasi, infrastruktur, serta mekanisme lintas batas antara Indonesia dan Malaysia.
“Kami berharap layanan RoRo Batam-Johor dapat mulai beroperasi pada pertengahan tahun depan. Namun, realisasinya tentu membutuhkan kesiapan dan kolaborasi seluruh pihak, khususnya terkait regulasi, infrastruktur, serta penyelarasan proses lintas batas kedua negara,” ujar Rio sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Jumat (14/08/2026).
Dari sisi fasilitas, Pelabuhan Bintang 99 Persada di Batam disebut telah memiliki infrastruktur yang diperlukan. Sebaliknya, Terminal Feri Tanjung Belungkor masih membutuhkan sejumlah peningkatan agar dapat mendukung pengoperasian layanan RoRo secara optimal.
Model transportasi RoRo memungkinkan kendaraan beserta muatannya langsung masuk ke kapal melalui proses roll-on dan kemudian keluar di pelabuhan tujuan melalui proses roll-off. Mekanisme tersebut membuat penanganan barang menjadi lebih sederhana dibandingkan sistem bongkar muat konvensional yang membutuhkan proses pengangkatan muatan.
Bagi kegiatan logistik, pola tersebut berpotensi memangkas waktu pelayanan dan mengurangi tahapan penanganan barang. Efisiensi itu dinilai dapat menjadi salah satu faktor pendukung bagi pengembangan perdagangan lintas batas antara Batam dan Johor.
Potensi pasar juga terlihat dari tingginya mobilitas masyarakat Malaysia menuju Batam. Berdasarkan data yang dihimpun ASDP, sekitar 193 ribu wisatawan asal Malaysia tercatat berkunjung ke Batam sepanjang 2024. Angka tersebut menjadi salah satu indikator adanya permintaan perjalanan antara kedua wilayah.
Selain pariwisata, peluang juga berasal dari sektor angkutan barang. Batam memiliki sejumlah komoditas yang berpotensi diangkut melalui jalur tersebut, antara lain produk hewani dan nabati, kakao, serta produk kimia.
Meski demikian, ASDP tidak langsung menargetkan kapasitas besar pada tahap awal. Berdasarkan asesmen awal, potensi angkutan diperkirakan masih di bawah 50 truk. Karena itu, pola serta kapasitas layanan akan dikembangkan secara bertahap sesuai dengan pertumbuhan permintaan.
ASDP juga perlu menjaga keseimbangan muatan atau balanced cargo antara perjalanan dari Batam menuju Johor maupun arah sebaliknya. Keseimbangan tersebut penting agar operasional rute tetap efisien dan memiliki tingkat keekonomian yang berkelanjutan.
Dari sisi hubungan ekonomi, Konsul Jenderal Republik Indonesia di Johor Bahru Sigit S. Widiyanto menilai koridor RoRo tidak sekadar menghadirkan alternatif transportasi baru. Menurut dia, layanan tersebut berpotensi mempererat hubungan dua kawasan yang sama-sama memiliki peran penting dalam aktivitas ekonomi regional.
“Meski secara geografis keduanya berdekatan, masih terdapat ruang yang besar untuk memperkuat hubungan ekonomi antara Batam dan Johor. Kehadiran layanan ini nantinya diharapkan dapat memperkuat jaringan logistik lintas batas, mendorong hubungan bisnis, sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi Indonesia dan Malaysia,” ujar Sigit.
Dengan berbagai persiapan tersebut, rencana RoRo Batam-Johor kini diarahkan pada pemenuhan kebutuhan infrastruktur, regulasi, dan koordinasi lintas negara. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, layanan yang ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2027 itu dapat menjadi tambahan jalur konektivitas yang mendukung perdagangan dan mobilitas masyarakat antara Indonesia dan Malaysia. []
Redaksi01
