Cegah Penularan DBD, RSUD Soedarso Perkuat IPC dan Surveilans Aktif
Direktur RSUD dr Soedarso Pontianak, drg Hary Agung Tjahyadi. (Foto : Istimewa)
RSUD Soedarso Pontianak memperkuat pencegahan dan pengendalian infeksi setelah menangani 67 pasien suspek DBD sepanjang Januari hingga Mei 2026.
PONTIANAK – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Soedarso Pontianak memperkuat pencegahan dan pengendalian penyakit menular setelah menangani 67 pasien suspek demam berdarah dengue (DBD) sepanjang Januari hingga Mei 2026.
Direktur RSUD Soedarso Pontianak Hary Agung Tjahyadi mengatakan, tingginya kasus DBD menjadi perhatian serius karena penyakit tersebut berpotensi menimbulkan komplikasi, terutama bagi pasien dengan penyakit penyerta.
Kasus suspek DBD tertinggi di RSUD Soedarso Pontianak terjadi pada Januari 2026 dengan 22 pasien. Setelah itu, jumlah pasien tercatat 15 orang pada Februari, sembilan orang pada Maret, 13 orang pada April, dan delapan orang pada Mei.
Hary mengatakan, pencegahan penularan penyakit di lingkungan rumah sakit dilakukan melalui pendekatan Infection Prevention and Control (IPC) secara komprehensif. Pendekatan itu didukung kesiapan logistik, sumber daya manusia (SDM), ruang isolasi, serta sistem surveilans aktif.
“Penyakit berpotensi wabah yang mendapat perhatian di RSUD dr Soedarso adalah Suspek Dengue, Diare Akut, Pneumonia, ISPA, Suspek Campak, GHPR, dan Suspek Meningitis/Ensefalitis,” ujar Direktur RSUD dr Soedarso, drg Hary Agung Tjahyadi, Jumat (22/05/2026).
Selain DBD, sejumlah penyakit berpotensi wabah yang menjadi perhatian RSUD Soedarso Pontianak meliputi diare akut, pneumonia, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), suspek campak, gigitan hewan penular rabies (GHPR), serta suspek meningitis atau ensefalitis.
“Kesiapan rumah sakit dalam menghadapi peningkatan kasus penyakit menular merupakan komponen penting dalam menjaga keselamatan pasien, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas,” tegasnya.
RSUD Soedarso Pontianak juga memperkuat layanan melalui kesiapan tenaga medis, ruang observasi, kapasitas tempat tidur pasien, serta pemeriksaan laboratorium untuk mendukung penanganan dini kasus dengue.
Upaya lain dilakukan melalui pengendalian vektor dan edukasi kepada tenaga kesehatan mengenai tata laksana dini serta pencegahan komplikasi. Langkah tersebut menjadi bagian dari kesiapsiagaan rumah sakit dalam menghadapi potensi peningkatan kasus penyakit menular.
Hary menambahkan, pengendalian penyakit menular tidak dapat dilakukan oleh rumah sakit saja. Menurut dia, kolaborasi lintas sektor diperlukan agar penanganan kasus berjalan lebih efektif.
“Pendekatan multidisiplin dan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama keberhasilan pengendalian penyakit menular,” pungkasnya. []
Penulis: Rachmat Effendi | Penyunting: Redaksi
