Rupiah Bertahan di Tengah Tekanan Global, APBN dan BI Jadi Penopang Utama

JAKARTA – Stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global kembali terjaga berkat kombinasi kebijakan fiskal yang terkendali dan intervensi aktif otoritas moneter, meskipun mata uang domestik masih bergerak fluktuatif pada penutupan perdagangan terbaru.

Rupiah tercatat berada di level Rp17.229 per dolar Amerika Serikat (AS), menguat 57 poin atau 0,33 persen dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.286 per dolar AS. Pergerakan serupa juga terlihat pada Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang naik ke Rp17.278 dari sebelumnya Rp17.308.

Penguatan ini terjadi di tengah ketidakpastian global yang dipicu konflik geopolitik dan lonjakan harga energi. Namun, pemerintah dinilai mampu menjaga kepercayaan pasar melalui pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang disiplin serta cadangan fiskal yang memadai.

Salah satu indikator kekuatan fiskal tersebut adalah keberadaan Saldo Anggaran Lebih (SAL) sebesar Rp423 triliun yang belum digunakan. Dana ini menjadi bantalan penting untuk menjaga defisit tetap di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), sesuai ketentuan perundang-undangan.

Dengan strategi efisiensi dan realokasi anggaran, pemerintah mampu menahan tekanan tanpa harus menguras SAL secara agresif. Langkah ini memberikan sinyal positif kepada investor bahwa stabilitas ekonomi nasional masih terjaga.

Di sisi moneter, Bank Indonesia (BI) mengambil langkah proaktif melalui intervensi di berbagai lini pasar valuta asing. Intervensi dilakukan di pasar offshore non-deliverable forward (NDF), pasar spot, serta pasar domestik domestic non-deliverable forward (DNDF).

Selain itu, BI juga memperluas operasi moneter valas melalui transaksi spot dan swap berbasis yuan offshore. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan menjaga stabilitas rupiah, tetapi juga mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi internasional.

Kondisi ini diperkuat oleh kebijakan pemerintah yang mampu menahan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, meskipun harga minyak mentah dunia berada di atas asumsi makro 2026. Kebijakan tersebut turut menjaga daya beli masyarakat sekaligus meredam kepanikan pasar.

Di tengah dinamika global, investor internasional masih mencermati arah kebijakan bank sentral utama dunia. Namun, konsistensi kebijakan fiskal dan moneter Indonesia dinilai menjadi faktor penopang kepercayaan terhadap rupiah.

Ke depan, pemerintah terus mendorong diversifikasi pendapatan melalui peningkatan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) serta pengendalian belanja negara secara selektif. Strategi ini diharapkan mampu memperkuat fondasi ekonomi nasional sekaligus menjaga stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang. []

Penulis: Danang Ismail | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *