Minyak Melemah, Harapan Perdamaian Mulai Muncul

WASHINGTON – Harga minyak dunia melemah signifikan pada Jumat (01/05/2026) waktu setempat di tengah munculnya sinyal diplomatik baru dari Iran yang mengajukan proposal perdamaian kepada Amerika Serikat (AS) melalui mediator Pakistan.

Penurunan harga ini terjadi seiring meningkatnya harapan pasar terhadap kemungkinan meredanya konflik geopolitik yang selama ini menekan stabilitas energi global. Harga minyak mentah berjangka AS turun lebih dari 3 persen menjadi 101,57 dolar AS per barel, sementara harga acuan internasional Brent terkoreksi sekitar 2 persen ke level 107,98 dolar AS per barel.

Pejabat Pakistan mengonfirmasi bahwa proposal terbaru dari Iran telah diterima mediator dan diteruskan kepada pemerintah AS. Langkah ini memicu optimisme pasar, meskipun respons dari pihak AS belum sepenuhnya positif.

“Iran ingin membuat kesepakatan, tetapi saya tidak puas dengan itu. Iran ingin membuat kesepakatan karena mereka tidak memiliki kekuatan militer lagi,” ujar Presiden AS Donald Trump, sebagaimana dikutip dari CNBC dan diberitakan Kompas, Sabtu (02/05/2026).

Di sisi lain, dinamika politik di dalam negeri AS turut memengaruhi arah kebijakan. Trump menghadapi tenggat waktu 60 hari berdasarkan Resolusi Kekuatan Perang (War Powers Resolution) terkait keterlibatan militer di Iran. Berdasarkan aturan tersebut, presiden wajib menarik pasukan jika tidak mendapat persetujuan Kongres Amerika Serikat (AS).

Namun, pemerintah AS menilai gencatan senjata yang dicapai sejak 7 April 2026 telah mengakhiri permusuhan, sehingga tidak memerlukan persetujuan lanjutan dari Kongres. “Untuk keperluan Resolusi Kekuatan Perang, permusuhan yang dimulai pada hari Sabtu, 28 Februari, telah berakhir,” kata seorang pejabat pemerintah.

Argumen tersebut sebelumnya disampaikan Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dalam sidang di Komite Angkatan Bersenjata Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS, yang menyebut gencatan senjata secara efektif menghentikan konflik bersenjata.

Meski demikian, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar. AS tetap mempertahankan blokade terhadap Iran, sementara Teheran menolak membuka kembali Selat Hormuz sebelum sanksi dicabut. Situasi ini menjaga ketidakpastian pasar energi global.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan terus mencermati perkembangan negosiasi kedua negara karena berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak dalam jangka pendek maupun menengah. []

Penulis: Agustinus Rangga Respati | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *