Harga Minyak Naik-Turun di Tengah Risiko Konflik Timur Tengah

JAKARTA – Ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah mendorong pergerakan harga minyak dunia yang fluktuatif, dengan pasar merespons rencana pembicaraan langsung antara Amerika Serikat (AS) dan Iran di tengah masih berlangsungnya ketegangan di Selat Hormuz.

Mengutip data perdagangan global, harga minyak Brent ditutup relatif stabil di level USD105,33 per barel, sementara minyak West Texas Intermediate (WTI) justru melemah lebih dari 1 persen ke posisi USD94,40 per barel pada Jumat (24/04/2026). Pergerakan yang beragam ini mencerminkan tarik-menarik antara harapan diplomasi dan kekhawatiran gangguan pasokan energi.

Rencana perundingan tersebut melibatkan utusan khusus AS Steve Witkoff dan Jared Kushner yang dijadwalkan bertemu dengan pihak Iran di Pakistan. Di sisi lain, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga melakukan kunjungan ke sejumlah negara, termasuk Islamabad, Muscat, dan Moskow, untuk membahas isu bilateral dan perkembangan kawasan.

Situasi ini diperumit dengan dinamika konflik lain di kawasan, termasuk kesepakatan perpanjangan gencatan senjata antara Israel dan Lebanon selama tiga minggu. Meski memberikan ruang diplomasi, kondisi di lapangan masih menunjukkan ketegangan tinggi, terutama dengan adanya blokade di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi energi global.

Selat tersebut sebelumnya dilalui sekitar 20 juta barel minyak per hari, sehingga penutupan atau pembatasan akses berdampak langsung pada pasokan energi dunia. Bahkan, blokade yang berlangsung telah mengganggu distribusi hingga jutaan barel minyak per hari.

“Semakin lama selat tetap tertutup, semakin besar biaya ekonominya, meningkatkan kemungkinan salah satu pihak akan terpaksa mundur,” tulis Commonwealth Bank of Australia dalam sebuah catatan yang diterbitkan Jumat.

Kepala Badan Energi Internasional (IEA) Fatih Birol juga menilai situasi ini sebagai ancaman serius terhadap stabilitas energi global. “Kita menghadapi ancaman keamanan energi terbesar dalam sejarah.”

“Hingga hari ini, kita telah kehilangan 13 juta barel minyak per hari, dan ada gangguan besar pada komoditas vital,” katanya kepada Steve Sedgwick secara virtual di acara CONVERGE LIVE CNBC di Singapura, sebagaimana dilansir CNBC, Sabtu (25/04/2026).

Di sisi lain, ketegangan militer dan langkah saling blokade antara AS dan Iran turut menekan lalu lintas kapal tanker di kawasan tersebut. Kondisi ini meningkatkan risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak pada lonjakan harga energi global, termasuk potensi penguatan dolar AS.

Dengan dinamika yang masih berkembang, pasar energi global diperkirakan tetap volatil, bergantung pada hasil negosiasi diplomatik serta perkembangan situasi keamanan di kawasan Timur Tengah. []

Penulis:  Agustina Melani | Penyunting: Redaksi01

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *