Kutai Kartanegara Jawara Pencak Silat

Salah satu laga ketangkasan para jawara di ajang Porprov VII. Kontingen cabor pencak silat asal Kukar berhasil memberikan prestasi terbaik dengan jumlah medali emas, perak dan perunggu terbanyak hingga menjadikan cabor pencak silat Kukar sebagai juara umum. Foto: Istimewa

 

KUTAI Kartanegara (Kukar) ternyata punya banyak jawara pencak silat yang dapat diandalkan. Dalam dua even besar di level Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) yang diselenggarakan tahun 2022 ini, mereka mampu menunjukkan prestasi terbaik yang pastinya mengharumkan nama daerah.

Kontingen atlet pencak silat asal Kukar berhasil menampilkan teknik-teknik seni bela diri yang hebat hingga banyak di antaranya berhasil meraih medali emas di ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda) XVI yang diselenggarakan di Kabupaten Paser dan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) VII yang digelar di Kabupaten Berau.

Pada Popda XVI yang berlangsung dari 22 Oktober hingga 28 Oktober 2022 lalu, para jawara Kukar berhasil menyabet 9 medali emas, 1 perak, dan 3 perunggu. Di ajang Porprov VII yang berlangsung dari 26 November hingga 7 Desember sukses meraih 8 medali emas, 5 medali perak, dan 3 medali perunggu.

Perolehan medali itu menjadikan Kukar menempati posisi teratas pada cabang olahraga (cabor) pencak silat yang diperlombakan di Popda XVI dan Porprov VII dan menjadikan kontingen pencak silat Kukar sebagai juara umum. Di dua even itu, para jawara dari Samarinda selalu menempati urutan kedua, sedangkan kontingen Bontang selalu menempati urutan ketiga.

Di Popda XVI, Samarinda meraih 7 medali emas, 6 perak, dan 7 perunggu dan di Porprov VII memperoleh 5 medali emas, 2 perak, dan 6 perunggu. Di tempat ketiga, pesilat Bontang memperoleh 2 medali emas, 4 perak, dan 4 perunggu untuk Popda XVI dan 3  medali emas, 4  perak dan 5 perunggu untuk di Porprov VII.

Wakil Ketua Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Ego Arifin mengakui bahwa para jawara Kukar memang selalu berprestasi di even-even terdahulu. Saingannya adalah para jawara dari Samarinda dan Bontang. Namun menurutnya, peta kekuatan masing-masing daerah cukup kompetitif sebab perolehan medali tersebar dan pesilat yang sukses ke final beragam.

“Perkembangan silat Kaltim cukup menggembirakan. Karena medali terbagi merata, Bontang biasanya satu, sekarang bisa 3 emas. Mahakam Ulu dan Kutai Barat juga masuk final, termasuk Balikpapan dapat satu emas,” ujar Ego Arifin kepada awak media di sela-sela kegiatan Porprov VII di Tanjung Redeb.

KALAHKAN JUARA BERTAHAN

Dalam even Popda yang diselenggarakan setiap tahun, para pesilat asal Samarinda mendominasi perolehan medali emas, perak dan perunggu, sehingga menjadikannya berada di posisi juara umum dalam empat tahun terakhir berturut turut. Tapi tidak untuk tahun ini, tekad para jawara dari Kukar berhasil memperoleh medali lebih banyak.

Padahal, kontingen pencak silat Kukar hanya mengisi 15 kelas dari 24 kelas yang dipertandingkan. Hal itu diungkapkan Siswo Cahyono, Ketua IPSI Kukar. “Sedangkan kabupaten kota yang lain banyak yang full dengan 24 nomor tanding. Tapi alhamdulillah kita bisa mengungguli daerah lain,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua DPRD Kukar ini.

Di ajang Popda XVI, para jawara remaja dari Kukar berhasil mengalahkan para jawara dari Samarinda yang dalam 4 tahun terakhir memegang posisi juara umum di Popda. Insert: Siswo Cahyono (tengah) saat berpose dengan pesilat pelajar asal Kukar. Foto: Istimewa

 

Keberhasilan itu, lanjut dia, juga berkat dukungan banyak pihak, termasuk Dinas Kepemudaan dan Olahraga (Dispora) Kukar yang telah banyak memfasilitasi kegiatan pencak silat di daerah. “Alhamdulillah, prestasi ini berkat kerja keras semua pihak, latihan yang disiplin dari para atlet kita, para pelatih, official, dan dukungan Dispora Kukar, serta doa masyarakat Kukar,” ungkap Siswo—sapaan akrabnya—saat diwawancara wartawan akhir Oktober lalu.

Saat itu, ia berujar bahwa keberhasilan pesilat Kukar akan dilanjutkan untuk ajang Porprov. Ia pun kembali meminta doa dan dukungan semua pihak agar di Porprov kontingen Kukar kembali dikukuhkan menjadi juara umum. “Kami kembali mohon doa dan dukungannya mudah-mudahan di Porprov nanti kita bisa kembali memberikan prestasi terbaik untuk Kukar,” harapnya sembari berpesan para atlet terus menjaga kondisi kesehatan dan stamina.

JAWARA PORPROV

Benar saja, harapan Siswo agar pesilat Kukar kembali memenangi banyak pertandingan di Porprov terwujud. Mereka yang menjadi jawara penyumbang emas di Porprov VII adalah  M. Alfin Faiz R, Devi Apriliana, Reza Restu Priyayi, Afrisa Hardiyanto, Al Viola Devita, Rizal Mahmud & Nasrullah, Umar Abdul Latif, M. Abd. Azis, Hanif Prawira H, Handini, Widia Astuti Rahmawati, dan Rizki Ragil Zulkifli.

Untuk pesilat Kukar yang sukses meraih medali perak adalah Husen Patriot, M Rizki, Nur Sulaimah, Rizki Ragil Z & Handini Handayani, dan Widia Astuti R.  Adapun yang berhasil mendapat medali perunggu adalah M Ikhsan, Halimah Tusa’diyah, Dita Derayi Ipena. Adapun sisanya yang gugur adalah Ridho Destriawan, M. Andi Azril, dan Syahmi.

Kontingen pencak silat asal Samarinda tak lagi mampu mempertahankan posisi juara umum Porprov, setelah dua kali Porprov selalu di posisi teratas. Kukar yang biasa di posisi runner up kali ini berada di atas. Insert: Siswo Cahyono (tengah) dan Mahmudin (nomor tujuh dari kanan) saat berpose bersama pelatih, official dan atlet di arena pencak silat Porprov II.

 

Melihat secara langsung penampilan pesilat binaannya di ajang Porprov VII, Siswo mengaku bangga. Terlebih, kontingen Samarinda yang pada dua kali ajang Porprov di tahun 2014 dan 2018 selalu menjadi juara umum. Pada Porprov tahun 2010, Bontang yang menjadi juara umum. “Walaupun bukan di kandangnya, karena tuan rumahnya Berau, pencak silat kita bisa juara umum,” terang Siswo kepada kuli warta di penghujung perhelatan Porprov VII.

Ia juga mengaku bangga dengan para jawara Kukar mengingat bukan saja di Porprov mereka berhasil menyumbang banyak medali, di Popda juga. “Selisih satu bulan saja kita bisa mengawinkan gelar ini. Di Popda itu kelasnya untuk pelajar. Sedangkan di Porprov ini kelasnya provinsi. ni suatu prestasi yang membanggakan bagi Kukar karena kita membawa dan mengharumkan nama daerah. Atlet yang kita tandingkan itu benar-benar asli putra daerah. Enggak ada atlet dari luar,” papar Siswo.

RAHASIA SUKSES

Soal strategi keberhasilan, Siswo berkekan membagikan rahasianya. Menurut dia, yang dibawa ke ajang Popda dan Porprov adalah yang terbaik dari yang terbaik di Kukar, diseleksi secara ketat melalui berbagai ajang, tingkatan  serta perguruan dalam proses yang memakan waktu cukup lama.

Selain melalui seleksi, penguatan dalam pembinaan juga perlu dilakukan. Penguatan itu dilakukan dengan memperkuat kepengurusan IPSI Kukar. Secara terus menerus, IPSI Kukar berupaya kapasitas pelatih dan membina prestasi atlet secara berkelanjutan. “Itu dilakukan dari tataran paling bawah. Misalnya tataran perguruan,” ungkapnya.

Bentuknya, IPSI Kukar mengadakan pertandingan antar perguruan pencak silat dan antar kecamatan. Hal ini merupakan salah satu cara untuk memperkuat jaringan atlet yang dibangun dari kelas bawah. Seleksi yang dilakukan pun tidak terbatas usia, termasuk pesilat usia dini, pra remaja, remaja, hingga kelas dewasa.

Menurut dia, pencak silat merupakan olahraga khas Indonesia, yang kerap menyumbangkan emas dalam berbagai ajang internasional. “Penyumbang emas terbanyak kan biasanya dari silat. Nah, makanya silat itu kompetisinya juga luar biasa di Indonesia. Begitu juga di Kaltim, karena semua kabupaten kota juga melakukan pembinaan yang selektif untuk atlet-atlet mereka,” papar Siswo.

PELATIH DIGEMBLENG

Dalam rangka meningkatkan kualitas pelatih pencak silat, IPSI bekerja sama dengan Dispora Kukar pada pertengahan Oktober lalu mengadakan Penataran Pelatih Tingkat Daerah (P2TD) di Hotel Grand Fatma, Tenggarong. Tujuan pelatihan itu adalah bagian dari persiapan untuk menghadapi sejumlah even baik di tingkat daerah maupun nasional.

“Kegiatan ini sebagai upaya peningkatan sumber daya manusia pelatih untuk tingkat daerah, tujuannya adalah agar nantinya para pelatih ini siap menghadapi banyaknya kegiatan dan even-even pertandingan pencak silat,” terang Siswo kepada wartawan di sela-sela acara pelatihan, beberapa waktu lalu, (13/10/2022).

Para pelatih atlet pencak silat diberikan penguatan dan sertifikasinya difasilitasi IPSI Kukar.

 

Lebih lanjut, dirinya menjelaskan banyaknya para atlet-atlet berprestasi di Kukar juga harus diimbangi dengan kemampuan pelatih yang mumpuni untuk menciptakan bibit-bibit atlet berbakat. “Tidak bisa dipungkiri, Kukar punya atlet berbakat baik dalam skala kabupaten hingga nasional, tentunya harus diimbangi dengan SDM pelatih yang bagus juga sehingga keabsahan kemampuan pelatih ini bisa tersertifikasi,” ujarnya.

Diterangkan Siswo, penataran kali ini merupakan tahapan kedua setelah penataran tingkat kabupaten. “Yang sudah memiliki sertifikat pelatih tingkat kabupaten, maka dilakukan peningkatan kembali untuk tingkat daerah. Karena selama ini hanya otodidak, mereka punya kemampuan tapi secara sertifikasi tidak punya, sehingga banyak yang tidak dilibatkan,” papar Siswo.

Secara terpisah, Kepala Dispora Kukar Aji Ali Husni melalui Sub Koordinator Seksi Pembudayaan dan Industri Olahraga Sapri menyampaikan bahwa Dispora sangat mendukung kegiatan dalam rangka peningkatan kualitas pelatih. “Karena untuk mengangkat harkat dan martabat itu butuh sebuah legalitas yang ada,” ujarnya.

Dan kegiatan ini, sambung dia, memang perlu dilakukan karena medali emas yang diraih Cabor pencak silat sudah banyak sekali. “Karena standar atlet kita ini sudah sampai kepada standar internasional. Oleh karenanya SDM pelatihnya juga harus kita tingkatkan lagi, tentang penanganan atlet, baik itu untuk atlet pemula, berkembang maupun juga yang sudah mempunyai prestasi,” ulas Sapri.

Pihak Dispora Kukar berharap para pelatih semakin bersemangat karena cukup banyak pelatih-pelatih muda yang nanti akan menangani atlet-atlet pencak silat ke depannya. “Cukup banyak juga peserta kegiatan ini dari umur 35 tahun ke bawah, hal ini merupakan sebuah bentuk semangat yang besar para pelatih untuk mengembangkan sumber daya manusia pencak silat ini,” pungkasnya.

AMBISI UNTUK PON

Upaya IPSI Kukar meraih sukses di berbagai ajang pencak silat bukan saja dengan intens meningkatkan kualitas dan memfasilitasi sertifikasi pelatih, namun juga memberikan dorongan serta fasilitasi terhadap pembinaan berkelanjutan dan rutinitas pelatihan bagi para pesilat Kukar yang telah sukses di Popda XVI dan Porprov VII.

Siswo Cahyono, pendekar PSHT

Tahun 2023 mendatang, Pra Pekan Olahraga Nasional (PON) dan PON akan digelar. Para jawara peraih medali emas, perak dan perunggu akan diseleksi kembali untuk mewakili Pra PON dan PON mendatang. “Mereka harus bekerja keras untuk mempersiapkan diri, menjaga prestasi. Jangan sampai nanti yang sudah juara satu, tapi prestasinya turun, porsi latihan berkurang, ya secara otomatis saat diseleksi kembali bisa kalah,” papar Siswo.

Untuk memotivasi dan menjaga prestasi, para jawara peraih medali tentu akan diberikan apresiasi. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kukar juga menjanjikan bonus bagi seluruh atlet berprestasi, termasuk bagi cabor juara umum mendapatkan Rp100 juta dan peraih medali emas Rp50 juta.

Namun menurut Siswo, penghargaan bagi mereka yang berprestasi tidak terbatas bonus finansial, melainkan juga kemudahan dan prioritas yang diperoleh saat ingin mendapatkan pekerjaan atau jabatan tertentu. Bahkan yang paling utama adalah kebanggan dan nama baik. “Paling utama adalah kebanggaan dan nama baik. Kan banyak atlet kita yang berprestasi, baik kelas daerah maupun nasional, mereka mau masuk ke mana-mana itu jadi prioritas,” ucapnya.

Ia mencontohkan atlet pencak silat berprestasi yang diberikan tempat khusus dalam seleksi anggota kepolisian dan militer. “Mereka mau masuk tentara atau akademi kepolisian, itu ada semacam jalur prestasi. Nah, itu kan kebanggaan bagi mereka. Mereka punya peluang sendiri ketika mereka berprestasi. Belum lagi ketika mereka masuk sekolah dan perguruan tinggi. Tentunya ada pertimbangan tertentu untuk mereka bisa diterima di situ lewat prestasinya mereka,” papar pesilat dari Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) ini.

OLAHRAGA DINAMIS

Jauh hari sebelumnya, saat dilakukan seleksi tingkat kabupaten, Mahmudin, Sekretaris IPSI Kukar mengakui bahwa kualitas para atlet tersebut sangat baik. Hanya saja, mereka perlu meningkatkan kualitas ketahanan fisik, taktik permainan, dan penguasaan lapangan. “Tapi kalau dari segi teknik bagaimana mereka menyerang dan mengantisipasi serangan, itu sudah bagus,” ujarnya kepada wartawan.

Mahmudin, pendekar Tapak Suci

Dalam kejuaraan tingkat kabupaten yang digelar Mei 2022 lalu, perguruan Tapak Suci dan PSHT menempati urutan teratas untuk perolehan medali. Para peraih medali emas dan perak dari perguruan Tapak Suci dan PSHT itu kemudian dilatih secara intens dalam pusat pelatihan untuk mewakili kejuaraan di tingkat lebih tinggi, yakni Porprov.

Mahmudin yang juga pesilat dari perguruan Tapak Suci mengungkapkan, bela diri merupakan olahraga yang berbeda dengan olahraga terukur. Jika sprinter bisa mencapai jarak tertentu dengan kecepatan 3 detik, maka pelari lainnya harus mampu mengalahkannya dengan waktu yang lebih singkat.

Apabila sprinter tersebut tidak mampu berlari cepat dengan waktu yang lebih singkat, maka secara otomatis ia akan kalah dengan atlet yang mampu berlari dengan waktu 3 detik. Namun, dalam olahraga bela diri, banyak hal yang bisa terjadi di lapangan sekian detik sebelum pertandingan berakhir. “Artinya, kalau bela diri sangat dinamis,” ujarnya.

Hal ini dibuktikan dengan hasil Sea Games 2022. Atlet-atlet pencak silat yang sebelumnya mendapatkan medali emas berguguran. “Juara Sea Games itu belum tentu bisa juara di PON. Juara PON belum tentu bisa juara di Porprov. Karena bela diri ini sangat dinamis sekali. Berbeda dengan olahraga terukur,” jelasnya. []

Penulis: Fajar Hidayat | Penyunting: Hadi Purnomo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *